Rabu, 19 November 2008

Buku Ajar 
TEKNIK MEMOTIVASI KELUARGA DALAM KESEHATAN

Deskripsi: Intervensi adalah suatu proses dengan berbagai segi dalam bekerja dengan keluarga, berbagai intervensi digunakan secara fleksibel dan dinamis. Penyuluhan atau pendidikan kesehatan di keluarga merupakan salah satu intervensi keperawatan yang paling utama dilakukan pada saaat kunjungan rumah di keluarga. Tujuan utama penyluhan di keluarga adalah untuk merubah perilaku keluarga dalam bidang kesehatan.

Tujuan Belajar :
1. Peserta didik mampu memahami konsep dasar intervensi keperawatan : Penyuluhan kesehatan di keluarga
2. Peserta didik mampu memahami langkah-langkah dalam kegiatan penyuluhan di keluarga
3. Peserta didik mampu merancang kegiatan penyuluhan kesehatan di keluarga
4. Peserta didik mampu mendemontrasikan kegiatan penyuluhan di keluarga


KONSEP DASAR PENYULUHAN KESEHATAN DI KELUARGA

Merupakan salah satu intervensi keperawatan utama yang mengajarkan keluarga tentang sistem kesehatan, sakit dan sistem kesehatan dan manusia, dinamika keluarga, pengasuhan anak, perlakuan perawatan kesehatan, dan bidang-bidang terkait lainnya melalui strategi belajar sebagai metode untuk mempermudah proses belajar. Tujuan dari belajar adalah untuk mendukung perilaku-perilaku yang sehat atau mengubah perilaku-perilaku yang tidak sehat, meskipun perubahan perilaku tidak bisa langsung terjadi / Harus terus diobservasi. Tujuan pengajaran kesehatan menurut Steiger dan Lipson (1985):
1. Untuk memberikan informasi sehingga klien mampu membuat keputusan-keputusan yang tepat dalam hubungannya dengan kesehatan dan sakit.
2. Untuk membantu klien agar berpartisipasi secara efektif dalam perawatan maupun penyembuhan.
3. Untuk membantu klien beradaptasi terhadap realita penyakit dan pengobatannya.
4. Untuk membantu klien agar mengalami rasa puas dengan usah-usaha mereka sendiri yang menunjang perbaikan kesehatan.
Penyuluhan menyediakan informasi bagi klien dam dengan demikian membantu mereka mengatasi perubahan hidup dan kejadian-kejadian dalam hidup secar lebih efektif (Watson, 1985). Memperoleh informasi yang bermakna membantu anggota keluarga merasa memiliki perasaan kontrol dan mengurangi stress serta membuat mereka mampu mendefinisikan pilihan-pilihan mereka sendiri dan pemecahan masalah.
Penyuluhan kesehatan sekarang perlu diarahkan untuk membantu pasien dan keluarga agar mereka terlibat dalam perawatan diri dan tanggung jawab terhadap diri sendiri. Anggota keluarga yang dewasa diharapkan dapat memahami bahwa mereka memiliki kapasitas untuk merawat diri mereka sendiri dan keluarga mereka, dan hak untuk mendapatkan informasi yang cukup sehingga mereka dapat membuat keputusan mereka sendiri. Dalam hal ini peran perawat adalah sebagai fasilitator dan nara sumber dari para klien yang akan memutuskan pilihan-pilihan apa yang paling baik bagi mereka. Penyuluhan keterampilan keperawatan untuk memberi asuhan keluarga cukup berkembang seiring dengan banyaknya kebijakan baru yang mengijinkan kepulangan pasien sakit parah dimana perawat-perawat kesehatan keluarga dengan basis di rumah bertanggung jawab dalam mengajarkan pembari asuhan tentang bagaimana merawat anggota keluarga mereka post rawat inap di rumah sakit.

Tipe-tipe belajar dalam Penyuluhan kesehatan

 Belajar meliputi usaha untuk memperoleh pemikiran-pemikiran, ide-ide (belajar kognitif), sikap (belajar efektif), dan perilaku (akusisi keterampilan psikomotorik) (Bloom, 1956). Pengenalan ketiga jenis tipe balajar tersebut sangat diperlukan, khususnya ketika merencanakan intervensi belajar tersebut sangat diperlukan, khususnya ketika merencanakan intervensi belajar, karena ketiga tipe belajar tersebut penting (Lester, 1986). Lebih jauh lagi ketiga tipe belajar tersebut saling tergantung. Misalnya, jika sikap kita terhadap makanan dan nutrisi berubah, maka sering diikuti oleh perubahan-perubahan perilaku. Usaha untuk memperoleh keterampilan-keterampilan perawatan diri menghasilkan sikap positif terhadap perawatan diri.

Pengajaran informal: penyediaan informasi
 Merupakan perpindahan informasi dalam pertemuan spontan antara perawat dan anggota keluarga dimana informasi dikomunikasikan dengan keluarga dengan cara-cara tidak tersusun. Doherty dan Campbell (1988) merincikan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan oleh kaum professional perawatan kesehatan ketika mereka memberikan informasi dan nasihat-nasihat medis yang berkesinambungan kepada keluarga-keluarga. Keterampilan tersebut adalah:
Mengkomunikasikan temuan-temuan dalam bdang kesehatan dan pilihan-pilihan pengobatan dengan anggota keluarga. 
Mendengar dengan penuh perhatian terhadap pertanyaan-pertanyaan dan persoalan-persoalan anggota keluarga.
Memberi nasihat kepada keluarga bagaimana menangani kesehatan dan kebutuhan-kebutuhan rehabilitasi dari pasien.
Tipe kualitas informasi kesehatan bervariasi tergantung dengan siapa kita berbicara dalam anggota keluarga. Akurasi informasi sangat penting, tetapi siapa yang akan menyampaikan informasi dan materi informasinya harus dikoordinasikan dahulu bila tim perawatan kesehatan dan keperawatan terlibat.

Menyediakan informasi untuk keluarga dengan anggota keluarga sakit kritis

 Praktik-praktik klinis dan riset keluarga menunjukkan bahwa di semua setting perawatan kesehatan, keluarga lebih banyak mengiginkan informasi ini meninggi ketika anggota keluarga dirawat di rumah sakit dan sakit kritis (Wright dan Leahey,1987). Keluarga mengignginkan agar mereka diberi informas secara teratur tentang kondisi, penanganan kemajuan dari seseorang yang mereka cintai. Satu startegi yang dianjurkan (Bozett dan Gibbons,1983) adalah agar perawat melakukan hubungan telepon secara teratur dengan keluarga tersebut. Startegi ini bermanfaat bagi perawat yang sekarang mengontrol penyebaran informasi dan tidak lagi melihat keluarga sebagai pengganggu atau menyusahkan dan keluarga yang merasa bahwa tidak perlu lagi berada di rumah sakit secara konstan dan tidak perlu cemas karena adanya informasi yang bersifat suportif, yang diberikan secara teratur(bozett dan gibbons, 1983).

Pemodelan peran

 Merupakan modalitas kuat untuk mengajarkan anggota keluarga bagaimana mengubah perilaku mereka. Pendekatan ini secara khusus penting bagi perawat pediatri yang berpusat pada keluarga yang berfungsi sebagai model peran ketika mereka mengajar orang tua, untuk perawat perawatan primer dan komunitas, ketika mereka mengajarkan anggota keluarga bagaimana berkomunikasi dan berinteraksi lebih fungsional. “tidak ada yang kurang memotivasi daripada seorang pemberi asuhan kesehatan yang mendorong klien untuk berhenti merokok dan mneurunkan berat badan, namun berbadan gemuk dan tercium bau tembakau di badannya” (steiger dan lipson, 1985, hal. 15)

Bimbingan antisipatori

 Merupakan salah satu tipe intervensi yang paling sentral, namun, kaum tenaga kesehatan perlu mengingat bahwa pengetahuan dalam dan tentang dirinya tidak harus mengubah perilakunya. Seperti yang diulas the Health Belief Model (Rosenstockm 1974; Pender, 1987), perubahan-perubahan dalam perilaku kesehatan karena berbagai faktor. Meta analisa (Sebuah sintesis dari berbagai studi) tentang riset terhadap pengajaran pada pasien menunjukkan bahwa pendidikan terhadap pasien cenderung menjadi positif dan jelasnya lebih baik daripada hasil-hasil yang dicapai oleh pasien-pasien tidak mendapat pengajaran (Mumford et al, 1982). Meta analisa ini juga menegaskan bahwa dalam mengajar, prestasi dari pengetahauan itu sendiri bukanlah pilihan yang paling efektif, misalnya pendekatan yang mengkombinasikan informasi dengan dukungan emosional untuk menghilangkan rasa cemas dalam satu meta-analisa (Mumford et al, 1982) dilaporkan lebih hebat daripada penyedia informasi itu sendiri. 
 Bimbingan antisipatori dilaksanakan dengan mendiskusikan kejadian, perasaan dan situasi dengan keluarga memberikan klarifikasi tentang ide-ide, reduksi ansietas dan kemampuan mengadaptasi perubahan peran di masa mendatang. Disamping itu, mempersiapkan keluarga dalam menghadapi kejadian traumatis sehingga keluarga dapat mengatasi stressor dengan lebih baik.



Variabel-Variabel Yang Mempengaruhi Keefektifan Belajar-Mengajar
Faktor-faktor klien
- Motifasi anggota keluarga. Motivasi merupakan kekuatan atau dorongan yang sangat penting, yang mengaktifkan individu tersebut berubah.
- Usia anggota keluarga.
- Keadaan psikologis anggota keluarga (misalnya ansietas, tingkat depresi).
- Persepsi anggota keluarga terhadap masalah-masalah kesehatan.

Faktor-faktor komunikasi
Komunikasi termasuk pertukaran informasi antara pengirim dan penerima. Rintangan-rintang komunikasi meliputi:
- Kurangnya pemahaman terhadap masalah-masalah.
- Rintangan-rintangan bahasa dan kebudayaan.
- Rintangan-rintangan sosioekonomi.
- Ketidakmampuan berkomunikasi secara jelas dengan guru dan satu sama lain.

Faktor-faktor situasional
- Lingkungan dimana proses belajar-mengajar berlangsung.
- Timing belajar.
- Modalitas pengajaran yang digunakan.

Partisipasi keluarga aktif

 Partisipasi keluarga aktif adalah suatu pendekatan esensial yang dimasukkan dalam setiap strategi intervensi keperawatan keluarga terkait dengan konsep bahwa keluarga memiliki hak dan tanggung jawab untuk membuat keputusan menyangkut kesehatan mereka sendiri.
 Tujuan dilibatkannya keluarga dalam tahap intervensi agar keluarga terlibat dalam memecahkan masalah, mendiskusikan tentang pendekatan-pendekatan yang paling tepat atau paling mungkin untuk digunakan agar tercapai tujuan yang telah disepakati bersama.
Menyertakan keluarga sebanyak mungkin dalam sesi-sesi konseling/ suportif dan pendidikan yang terencanabersifat sangat membantu (doherty dan Campbell, 1988; Drotar, Crawfors dan Bush, 1984). Cara ini memberikan kesempatankepada anggota keluarga untuk mengekspresikan diri mereka sendiri dan mendukung satu sama lain. Selain itu, cara ini juga merangsang diskusi kelompok dan umpan balik yang sangat diperlukan serta menjamin bahwa semua anggota yang hadir memperoleh informasi yang dibutuhkan.
 Dalam keluarga yang memiliki seorang anak penderita penyakit kronis, seringkali hanya melibatkan ibu dalm mengurus anak tersebut. Hal ini mengakibatkan perasaan “diabaikan” yang datangnya dari ayah dan anak-anak lain yang sehat karena perhatian ibu hanya tercurah pada anak yang sakit (Drotter et al, 1984). Keadaan ini menciptakan jarak antar anggota keluarga sehingga menghambat tranformasi informasi tentang masalah kesehatan dan bagaimana penanggulangan bagi anak yang sakit. Selain itu hilang pula kesempatan untuk mendiskusikan permasalahan yang dihadapi seluruh anggota keluarga dan tidak tercapainya proses dukungan antara anggota keluarga.
 Dalam merawat seorang anggota keluarga di rumah sakit atau dirumah, khususnya jika sakit tersebut membahayakan kehidupan, anggota keluarga sering merasa tidak berdaya, dan stress. Sehingga dibutuhkan intervensi yang dapat mengikutsertakan anggota keluarga dan mengurangi stressnya. Intervensi menurut Wright dan Leahey (1987) meliputi:
- Teknik memberikn perawatan
- Teknik menyentuh dan memegang pasien tanpa mengganggu perawatan
- Teknik mendorong anggota keluarga untuk menanggung peran-peran perawatan
Keterlibatan keluarga dalam merawat anggota keluarganya yang sakit memberikan keluarga suatu perasaan kompotensi (Powar dan Dell Orto, 1988). Kompotensi adalah konsep empowerment Yaitu memberikan kekuasaan kepada keluarga sehingga mengetahui kemampuan dan kapasitas untuk memecahkan permasalahan kesehatan mereka sendiri, mengubah hidup mereka sendiri dan mencapai tujuan-tujuan kesehatan mereka sendiri.

LANGKAH-LANGKAH PENYULUHAN/PENDIDIKAN KESEHATAN 

 Memiliki langkah-langkah dasar: pengkajian, pernyataan masalah (dalam penyuluhan disebut ‘kebutuhan belajar’), tujuan, implementasi dan evaluasi.
Pengkajian
 Pengkajian dilakukan terhadap kesiapan anggota keluarga untuk belajar. Kesiapan ini terdiri dari:
1. Kesiapan emosional meliputi motivasi untuk belajar
2. Kesiapan pengalaman meliputi memadainya latar belakang pengetahuan, penguasaan keterampilan tertentu dan pengetahuan, sikap serta nilai-nilai yang berkaitan dengan belajar (Steiger dan Lipson, 1985)
Mengkaji kesiapan anggota keluarga untuk belajar cukup sulit karena berbeda-beda tiap anggota keluarga. Kaum dewasa, secara khusus belajar lebih baik ketika mereka siap dan berkeinginan untuk belajar (Knowles, 1973). Perlu adanya penekanan lebih banyak terhadap proses belajar dari klien (Watson, 1985). Dalam mengkaji kesiapan anggota keluarga, perawat keluarga harus bekerja dalam kerangka kerja dari keluarga agar didapatkan persepsianggota keluarga dan kebutuhan-kebutuhan informasi dan keterampilan.

Identifikasi Masalah
 Kebutuhan keluarga akan belajar biasanya berhubungan erat dengan masalah-masalah kesehatan dan sakit yang sifatnya serius dan kompleks. Akan tetapi, kurangnya pengetahuan dalam bidang peningkatan kesehatan keluarga dan semua hal yang ada didalamnya hendaknya tidak harus dipandang sebagai pusat perhatian pengajaran.

Perencanaan
 Merumuskan tuuan jangka panjang dan jangka pendek yang realistis, objektif dengan mempertimbangkan kemampuan dan berorientasi pada tujuan. Selain itu juga menentukan strategi-strategi penyuluhan yang dapat mempermudah proses belajar.

Implementasi Perencanaan Penyuluhan
 Pnyuluhan dalam keperawatan keluarga merupakan penyampaian informasi secara formal (sesuai perencanaan) maupun informal (dalam suasana yang fleksibel, interaktif dan spontan dalam suatu interaksi perawat klien) dan terstruktur sesuai dengan kondisi keluarga. Pengajaran meliputi pemodelan, memperagakan, strategi-strategi yang berkaitan dengan pengalaman yang membantu keluarga mempelajari kompetensi baru atau memperoleh definisi yang lebih positif dalam situasi mereka (disebut reframing).

Dokumentasi dan Evaluasi
 Merupakan proses pencatatan tentang penyuluhan yang telah dilaksanakan terdiri dari : respon-respon klien selama penyuluhan berlangsung, sejauh mana pencapaian tujuan telah tercapai (menurut keluarga dan perawat) dan bagaimana proses keperawatan yang berlangsung. Apabila tujuan tidak tercapai sepenuhnya, dibuat analisa terhadap hambatan-hambatan secara berurutan dalam mengidentifikasi. Rintangan-rintangan, biasanya modifikasi rencana belajar-mengajar dapat dilakukan (Steiger dan Lipson, 1985).


PANDUAN UNTUK PENGAJAR


1. Standar Kompetensi

KODE UNIT :
JUDUL UNIT : Konseling
URAIAN UNIT : Unit ini mencakup kemampuan dalam melaksanakan teknik konseling, yang meliputi proses konseling, kemampuan yang harus dimiliki oleh konselor, hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses konseling. Keterampilan ini digunakan dalam membantu menyelesaikan masalah kesehatan yang dialami oleh individu, keluarga maupun kelompok (komunitas).

ELEMEN Kriteria Unjuk Kerja (KUK)
1.Pembinaan hubungan baik

 • Wajah menghadap ke klien
• Memberikan senyum dan mengangguk
• Ekspresi muka menunjukan sikap terbuka dan tidak menilai
• Tubuh condong ke depan
• Kontak mata
• Santai dan sikap bersahabat
 2. Penggalian informasi • Mendorong klien untuk berbicara
• Mendengar secara aktif
• Menunjukan minat dan perhatian terhadap klien
• Mengamati komunikasi nonverbal klien
• Menggunakan teknik klarifikasi dan validasi
• Tidak melakukan penilaian
 3. Pemberian informasi • Memberikan informasi sesuai kebutuhan
• Menggunakan teknik personalizing
 4. Pengambilan keputusan, pemecahan masalah dan perencanaan • Mengidentifikasi kondisi masalah yang dihadapi
• Menyeleksi setiap alternatif pemecahan masalah
• Membantu memilih alternatif yang sesuai
• Membantu menyusun tujuan
• Membantu dan mengarahkan langkah-langkah untuk mencapai tujuan.
 5. Terminasi dan rencana tindak lanjut • Menyimpulkan hasil pertemuan
• Menentukan rencana pertemuan berikut
• Membuat dokumentasi hasil pertemuan
 PERSYARATAN / KONDISI UNJUK KERJA
• Proses konseling dilaksanakan berdasarkan kebutuhan klien.
• Untuk pelaksanaan konseling diperlukan ruangan yang menjamin kerahasiaan klien dan memberikan rasa nyaman bagi klien.
• Diperlukan keterampilan dan kwalitas kepribadian bagi konselor yang meliputi mengenal diri sendiri, memahami orang lain, mampu berkomunikasi dengan orang lain, mempunyai etika sebagai konselor dan bertanggung jawab. .

ACUAN PENILAIAN

Tindakan ini membutuhkan keterampilan berkomunikasi, kemampuan dalam menggali permasalahan klien, mengarahkan dalam pengambilan keputusan yang sesuai dengan kondisi klien, kemampuan dalam mencari penyelesian masalah dengan segala konsekwensinya. 
   
Keterampilan :
Jenis keterampilan yang diperlukan meliputi attending skill, responding skill, teknik personalizing dan teknik intiating.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
2. Standar Evaluasi

MATRIKS PENILAIAN
PENGKAJIAN KOMUNITAS

(ELEMEN) SUBKOM PETENSI DOMAIN METODE PENILAIAN KET
KRITERIA UNJUK KERJA S K A O D Q LIS LAP 
1.1. X X X X  
1.2. X X X  
1.3. X X X X  
1.4. X X X X  
1.5. X X X X  
1.6. X X X X  
2.1. X X X  
2.2. X X X  
2.3. X X X  
2.4. X X X  
2.5. X X X  
2.6. X X X  
3.1. X X X  
3.2. X X X  
4.1. X X X  
4.2. X X X  
4.3. X X X  
4.4. X X X  
4.5. X X X  
5.1. X X 
5.2. X X 
5.3. X X 
 
 Keterangan :
 S = skill K = kognitif A = afektif
O = observasi D = demonstrasi Q = quis Lis = lisan Lap = lapora






Catatan Penilaian Keperawatan Observasi
( BERMAIN PERAN )
Judul Kompetensi : Proses Penyuluhan Keluarga
Nama Kandidat :
TINGKAH LAKU YANG DIAMATI SKOR KET
 0 1 2 
1. Menyapa klien dengan ramah  
2. Menyapa klien dengan ramah  
3. Duduk menghadap klien  
4. Senyum / mengangguk  
5. Ekspresi wajah menunjukan perhatian  
6. Tubuh condong ke klien  
7. Kontak mata sesuai budaya  
8. Santai dan dikap bersahabat  
9. Volume suara memadai  
10. Intonasi dan kecepatan suara memadai  
11. Memberikan penghargaan  
12. Memperhatikan tingkah laku verbal/nonverbal  
13. Menggunakan teknik klarifikasi  
14. Mendengar secara aktif  
15. Memberikan respon terhadap komunikasi nonverbal klien  
16. Memberikan informasi sesuai kebutuhan  
17. Membenatu merumuskan masalah  
18. Membantu merumuskan alternatif pemecahan masalah  
19. Membantu proses perencanaan pemecahan masalah  
20. Merangkum pembicaraan  
21. Melakukan terminasi dan membuat rencana tindak lanjut.  
Total  

Ket : 0 : tidak dilakukan 
1 : Dilakukan tidak sempurna
  2 : Dilakukan sempurna
  Nilai batas lulus  80%


Bandung, …………………..
  Peserta Ujian Evaluator




( ) ( )

















Catatan Penilaian Keperawatan
Studi Dokumentasi

Judul Kompetensi : Melakukan Penyuluhan Keluarga
Nama Kandidat :

Aspek yang dinilai
 CEK Ket
 0 1 2 
1. Mencatat semua tindakan yang dilakukan selama melaksanakan kegiatan penyuluhan pada catatan perawat.
2. Mencatat respon keluarga selama penyuluhan pada catatan perawat.
3. Menandatangani catatan yang telah dibuat.
4. Tulisan :
 Jelas
 Mudah dibaca
 Ditandatangani
 Terdapat nama jelas
 Tidak ada bekas menghapus
 Tulisan yang salah dicoret
 Ditulis dengan tinta / ballpoint.  

Ket : 0 : tidak dilakukan 
1 : Dilakukan tidak sempurna
  2 : Dilakukan sempurna

  Nilai batas lulus  80%


Bandung, ………………
  Peserta Ujian Evaluator




( ) ( )






Catatan Penilaian Keperawatan
Bank Question


Judul Kompetensi : Penyuluhan Keluarga
Nama Kandidat :

ELEMEN KUK Pertanyaan
 Jawaban yang diharapkan Ket
1.







2





3. 1




















 1. Apa tujuan penyuluhan ?





2. Apa indikasi melakukan penyuluhan ?



3. Bagaimana prosedur melakukan terapi keluarga dengan pendekatan sistem?




 Untuk membantu klien dalam mengidentifikasi masalah, proses pengambilan keputusan dan penyusunan rencana atau langkah dalam menyelesaikan masalah baik masalah individu, keluarga maupun kelompok.

2. Klien individu, keluarga maupun kelompok yang memiliki masalah baik yang teridentifikasi maupun tidak dan memiliki keinginan untuk mengatasinya.

1.Untuk memberikan informasi sehingga klien mampu membuat keputusan-keputusan yang tepat dalam hubungannya dengan kesehatan dan sakit.
2.Untuk membantu klien agar berpartisipasi secara efektif dalam perawatan maupun penyembuhan.
3. Untuk membantu klien beradaptasi terhadap realita penyakit dan pengobatannya.
4. Untuk membantu klien agar mengalami rasa puas dengan usah-usaha mereka sendiri yang menunjang perbaikan kesehatan.

1. Menyediakan lingkungan yang nyaman
2. Menyambut klien dengan ramah
3. Duduk menghadap klien
4. Senyum / mengangguk
5. Ekspresi wajah menunjukan perhatian
6. Tubuh condong ke klien
7. Kontak mata sesuai budaya
8. Santai dan sikap bersahabat
9. Volume suara memadai
10. Intonasi dan kecepatan suara memadai
11. Memberikan penghargaan
12. Memperhatikan tingkah laku verbal/nonverbal
13. Menggunakan teknik klarifikasi dan Mendengar secara aktif
14. Memberikan respon terhadap komunikasi nonverbal klien
15. Memberikan informasi sesuai kebutuhan
16. Membantu merumuskan masalah
17. Membantu merumuskan alternatif pemecahan masalah
18. Mengidentifikasi konsekwensi setiap alternatif
19. Membantu proses perencanaan pemecahan masalah
20. Merangkum pembicaraan
21. Melakukan terminasi dan membuat rencana tindak lanjut. 

terapi keluarga

BUKU AJAR 
TERAPI KELUARGA


JUDUL UNIT : Terapi Keluarga
URAIAN UNIT : Unit ini mencakup kemampuan dalam melaksanakan terapi keluarga yang berkaitan dengan masalah psikologis, sosial, kesehatan fisik, status mental, dan spiritual yang dialami oleh keluarga. Kompetensi ini digunakan pada tatanan pelayanan keperawatan keluarga baik di masyarakat maupun di institusi pelayanan kesehatan lainnya. Keterampilan ini digunakan sebagai salah satu cara penyelesaian konflik yang dialami oleh keluarga.
ELEMEN Kriteria Unjuk Kerja (KUK)
1. Pengkajian 1.1 Mengkaji struktur keluarga (pola komunikasi, peran, nilai, dan kekuatan keluarga)
1.2 Mengkaji fungsi keluarga (fungsi afektif, sosialisasi, ekonomi, dan koping keluarga).
1.3 Menganalisa masalah keluarga yang dapat diselesaikan melalui terapi keluarga
2. Melakukan persiapan 2.1 Menyiapkan bahan untuk terapi keluarga 
2.2 Menyampaikan tujuan terapi kepada keluarga
2.3 Membuat kontrak dengan keluarga untuk pelaksanaan terapi keluarga. 
ELEMEN Kriteria Unjuk Kerja (KUK)
3. Melakukan terapi keluarga dengan pendekatan sistem 3.1 Mengucapkan salam terapeutik kepada keluarga
3.2 Menyampaikan tujuan sesi terapi keluarga saat ini
3.3 Menjelaskan tata tertib yang harus dipatuhi oleh keluarga
3.4 Melakukan terapi keluarga dengan pendekatan sistem :
- Mengklarifikasi dan membedakan pemikiran dan perasaan pada anggota keluarga
- Membantu keluarga untuk menyatakan pendapat dan pemikirannya sendiri tanpa takut merasa berbeda dengan anggota yang lain
- Mengupayakan terjadinya diferensiasi pada anggota keluarga dan mencegah terjadinya segitiga masalah dalam keluarga dengan tetap menjaga kontak aktif dari seluruh anggota keluarga
- Mempertahankan diferensiasi yang telah terjadi pada anggota keluarga dan menerapkannya untuk mengatasi masalah yang terjadi di keluarga
4. Evaluasi 4.1 Melakukan evaluasi terapi keluarga bersama-sama
4.2 Membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya.
5. Dokumentasi 5.1 Mencatat hasil terapi keluarga
5.2 Membuat dan mencatat rencana intervensi.

PERSYARATAN / KONDISI UNJUK KERJA
• Terapi keluarga dilakukan setelah terbina hubungan saling percaya.
• Bahasa yang digunakan disesuaikan dengan latar belakang budaya dan pendidikan klien.
• Setiap kali berinteraksi, dilakukan sesuai tahapan komunikasi terapeutik.
• Pelaksanaan terapi keluarga dilakukan sesuai dengan SOP. 
ACUAN PENILAIAN
Tindakan ini membutuhkan keterampilan berkomunikasi, kemampuan menganalisa data, menegakkan masalah, melaksanakan terapi keluarga yang tepat dan benar, yang dapat didemonstrasikan dan diuji dengan uji tulis, lisan, dan ujian praktik.

  Keterampilan :
1. Teknik komunikasi verbal – non verbal yang terapeutik.
2. Kemampuan observasi perilaku / ekspresi non verbal klien
3. Kemampuan berespon terhadap semua perilaku (respon verbal dan non verbal klien).

  Kemampuan :
1. Mengkaji struktur dan fungsi keluarga.
2. Menganalisa data hasil pengkajian yang memerlukan intervensi terapi keluarga.
3. Melaksanakan terapi keluarga.






















Catatan Penilaian Keperawatan Observasi
( BERMAIN PERAN )

Judul Kompetensi : Terapi Keluarga
Nama Kandidat :
ASPEK YANG DINILAI SKALA KET
 0 1 2 
1. Mengucapkan salam terapeutik kepada keluarga
2. Menyampaikan tujuan sesi terapi keluarga saat ini
3. Membuat kontrak (waktu dan tempat ) bersama klien.
4. Menjelaskan tata tertib yang harus dipatuhi oleh keluarga
5. Melakukan terapi keluarga dengan pendekatan sistem :
- Mengklarifikasi dan membedakan pemikiran dan perasaan pada anggota keluarga
- Membantu keluarga untuk menyatakan pendapat dan pemikirannya sendiri tanpa takut merasa berbeda dengan anggota yang lain
- Mengupayakan terjadinya diferensiasi pada anggota keluarga dan mencegah terjadinya segitiga masalah dalam keluarga dengan tetap menjaga kontak aktif dari seluruh anggota keluarga
- Mempertahankan diferensiasi yang telah terjadi pada anggota keluarga dan menerapkannya untuk mengatasi masalah yang terjadi di keluarga

6. Memvalidasi atau mengklarifikasi ungkapan klien
7. Mengidentifikasi pencapaian tujuan bersama klien
8. Membuat kontrak untuk pertemuan selanjutnya.
9. Mengucapkan salam
10. Mencatat tindakan yang telah dilakukan
11. Mencatat respon klien (obyektif dan subyektif )  










 

Ket : 0 : tidak dilakukan 
1 : Dilakukan tidak sempurna
  2 : Dilakukan sempurna

  Nilai batas lulus  80%
Bandung, ………………

Peserta Ujian Evaluator






( ) ( )




































Catatan Penilaian Keperawatan
Studi Dokumentasi


Judul Kompetensi : Melakukan terapi keluarga 
Nama Kandidat :

Aspek yang dinilai
 CEK Ket
 0 1 2 
1. Mencatat semua tindakan yang dilakukan selama melaksanakan kegiatan terapi keluarga pada catatan perawat.
2. Mencatat respon keluarga selama terapi keluarga pada catatan perawat.
3. Menandatangani catatan yang telah dibuat.
4. Tulisan :
 Jelas
 Mudah dibaca
 Ditandatangani
 Terdapat nama jelas
 Tidak ada bekas menghapus
 Tulisan yang salah dicoret
 Ditulis dengan tinta / ballpoint.  


Ket : 0 : tidak dilakukan 
1 : Dilakukan tidak sempurna
  2 : Dilakukan sempurna

  Nilai batas lulus  80%


Bandung, ………………

Peserta Ujian Evaluator






( ) ( )
Catatan Penilaian Keperawatan
Bank Question


Judul Kompetensi : Terapi Keluarga
Nama Kandidat :

ELEMEN KUK Pertanyaan
 Jawaban yang diharapkan Ket
1.









 1.1




















 1. Apa tujuan terapi keluarga ?






2. Apa indikasi melakukan terapi keluarga?










































3. Bagaimana prosedur melakukan terapi keluarga dengan pendekatan sistem?




 Tujuan dari terapi keluarga adalah untuk menyelesaikan konflik yang terjadi dalam keluarga yang tidak dapat diselesaikan melalui terapi individual.

1. Masalah yang ada merupakan masalah dalam kerangka system keluarga, seperti konflik pernikahan, konflik antara saudara kandung, atau konflik antar generasi (orang tua dan anak, orang tua dan kakek/nenek).
2. Munculnya berbagai jenis kesulitan dan konflik antara pasien dan anggota keluarga lain.
3. Keluarga menghadapi tahap transisi dari siklus kehidupan keluarga, seperti menjadi keluarga pemula, menikah, kelahiran anak pertama, anak memasuki masa remaja, anak pertama meninggalkan rumah, memasuki masa pensiun, atau karena kematian pasangan.
4. Terapi individual dengan satu anggota keluarga menyebabkan timbulnya gejala pada anggota keluarga yang lain.
5. Tidak ada perbaikan dengan terapi individual yang adekuat
6. Pasien yang sedang dalam perawatan tampak tidak mampu untuk menggunakan terapi individual, justru menggunakan sesi terapi untuk membicarakan atau mengeluh tentang anggota keluarganya yang lain.

1. Mengklarifikasi dan membedakan pemikiran dan perasaan pada anggota keluarga
2. Membantu keluarga untuk menyatakan pendapat dan pemikirannya sendiri tanpa takut merasa berbeda dengan anggota yang lain
3. Mengupayakan terjadinya diferensiasi pada anggota keluarga dan mencegah terjadinya segitiga masalah dalam keluarga dengan tetap menjaga kontak aktif dari seluruh anggota keluarga
4. Mempertahankan diferensiasi yang telah terjadi pada anggota keluarga dan menerapkannya untuk mengatasi masalah yang terjadi di keluarga
 



































BUKU AJAR TERAPI KELUARGA



DESKRIPSI POKOK BAHASAN

Unit ini mencakup kemampuan dalam melaksanakan terapi keluarga yang berkaitan dengan masalah psikologis, sosial, kesehatan fisik, status mental, dan spiritual yang dialami oleh keluarga. Kompetensi ini digunakan pada tatanan pelayanan keperawatan keluarga baik di masyarakat maupun di institusi pelayanan kesehatan lainnya. Keterampilan ini digunakan sebagai salah satu cara penyelesaian konflik yang dialami oleh keluarga.

TUJUAN PEMBELAJARAN 

Tujuan Umum :
Setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar, mahasiswa diharapkan mampu untuk melaksanakan kegiatan terapi keluarga di masyarakat maupun institusi pelayanan kesehatan.

Tujuan Khusus :
Setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar, mahasiswa mampu :
1. Menyebutkan tujuan terapi keluarga
2. Menyebutkan indikasi terapi keluarga
3. Menjelaskan tahapan/prosedur terapi keluarga
4. Melaksanakan terapi keluarga

KONSEP YANG MENDASARI
TUJUAN TERAPI KELUARGA
Tujuan dari terapi keluarga adalah untuk menyelesaikan konflik yang terjadi dalam keluarga yang tidak dapat diselesaikan melalui terapi individual.

INDIKASI
Indikasi dilakukannya terapi keluarga apabila terdapat kondisi berikut ini :
7. Masalah yang ada merupakan masalah dalam kerangka system keluarga, seperti konflik pernikahan, konflik antara saudara kandung, atau konflik antar generasi (orang tua dan anak, orang tua dan kakek/nenek).
8. Munculnya berbagai jenis kesulitan dan konflik antara pasien dan anggota keluarga lain.
9. Keluarga menghadapi tahap transisi dari siklus kehidupan keluarga, seperti menjadi keluarga pemula, menikah, kelahiran anak pertama, anak memasuki masa remaja, anak pertama meninggalkan rumah, memasuki masa pensiun, atau karena kematian pasangan.
10. Terapi individual dengan satu anggota keluarga menyebabkan timbulnya gejala pada anggota keluarga yang lain.
11. Tidak ada perbaikan dengan terapi individual yang adekuat
12. Pasien yang sedang dalam perawatan tampak tidak mampu untuk menggunakan terapi individual, justru menggunakan sesi terapi untuk membicarakan atau mengeluh tentang anggota keluarganya yang lain.

KONSEP TEORI KELUARGA
Keluarga sebagai suatu sistem sosial yang hidup, merupakan sebuah kelompok kecil yang terdiri dari individu-individu yang mempunyai hubungan erat satu sama lain dan saling tergantung, yang diorganisir dalam satu unit tunggal dalam rangka mencapai tujuan-tujuan tertentu. 
 Keluarga memiliki hubungan satu sama lain dalam suatu sistem keluarga terikat begitu ruwet sehingga suatu perubahan yang terjadi pada satu bagian pasti menyebabkan perubahan-perubahan dalam seluruh sistem keluarga. Setiap anggota keluarga dan subsistem akan dipengaruhi oleh stresor-stresor transisional dan situasional, tapi efek-efek tersebut berbeda-beda intensitas maupun kualitas. Oleh karena itu jika ada seorang anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan baik fisik maupun psikososial maka hal tersebut akan dapat mempengaruhi kondisi keluarga secara keseluruhan. 
 Dengan memahami prinsip-prinsip keluarga, perawat dapat melakukan observasi yang akurat sehingga dapat meningkatkan pengkajian terhadap kebuthan dan sumber-sumber dalam keluarga. Perawat juga dapat menyarankan cara baru untuk meningkatkan fungsi keluarga yang adaptif dan meningkatkan koping keluarga yang efektif. Dengan demikian, perawat dapat lebih cepat mengidentifikasi masalah di dalam sistem keluarga dan bersama keluarga mencari penyelesaian masalah yang tepat serta melakukan rujukan jika diperlukan.
 Terapi keluarga merupakan terapi yang dikembangkan untuk menangani keluarga-keluarga yang bermasalah dan oleh karena itu sebagian besar berorientasi pada patologis yang menyangkut keluarga fungsional maupun disfungsional, dan bersifat preskriptif (menyarankan strategi penangan (Friedman, 1992).
 Ada 3 jenis terapi keluarga yang banyak digunakan yaitu : terapi sistem keluarga, terapi struktural, dan terapi strategis. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing dari terapi tersebut.
1. Terapi Sistem Keluarga
Terapi ini dikembangkan oleh Bowen pada tahun 1950-an dan terus berkembang sampai sekarang. Premis dari terapi ini adalah bahwa sebuah keluarga merupakn sistem yang homeostatik. Adanya perubahan dalam fungsi satu anggota keluarga akan mengakibatkan perubahan dalam fungsi anggota keluarga yang lain.
Terapi sistem menjelaskan disfungsi emosional dalam hubungan manusia, khususnya dalam sistem keluarga. Adanya gejala-gejala pada anggota keluarga, baik sosial, fisik, emosional, atau konfliktual dipandang sebagai bukti adanya disfungsi dalam proses hubungan keluarga.
Tujuan dari terapi sistem keluarga untuk mengidentifikasi fakta fungsional dari suatu hubungan : apa yang terjadi, kapan, dimana, bagaimana, dan siapa saja yang terlibat. Fakta yang dapat diobservasi ini lebih penting daripada alasan mengapa perilaku yang problematik ini terjadi. Perawat lebih mengumpulkan deskripsi perilaku anggota keluarga daripada ungkapan perasaan. Terapi sisem menggunakan kata-kata yang sederhana dan deskriptif, tidak menggunakan jargon psikodinamik.
Terapi sistem dikembangkan dari suatu pola sentral yang diobservasi pada keluarga yang diteliti. Beberapa keluarga gagal untuk membedakan antara proses intelektual berpikir dan lebih ke arah proses subyektif dari perasaaan. Anggota keluarga merasa bahwa proses berpikirnya sangat dipenuhi dengan perasaan sehingga ia tidak mampu memisahkan kepercayaan intelektual dari perasaan subyektif. Keluarga lebih memfokuskan pada perasaan dalam rangka menciptakan kebersamaan dan kesepakatan. Mereka menghindar untuk menyatakan pendapat atau keyakinan yang akan membuat satu anggota keluarga berbeda atau terpisah dari “garis keluarga”.
Tujuan kunci dari terapi sistem adalah untuk mengklarifikasi dan membedakan pemikiran dan perasaan pada anggota keluarga. Observasi dari fusi antara pemikiran dan perasaan membawa pada konsep ego keluarga yang tidak terdiferensiasi. Orang yang memiliki fusi pemikiran dan perasaan yang paling besar akan berfungsi secara minimal. Mereka mewarisi persentase yang tinggi dari masalah kehidupan sosial, psikiatri, dan masalah medis.
Teori sistem keluarga terdiri dari tujuh konsep yang saling berkaitan. Tiga konsep diterapkan untuk keseluruhan karakteristik sistem keluarga yaitu : diferensiasi diri, segitiga, dan sistem emosional keluarga inti. Empat konsep yang lain berhubungan dengan karakteristik sentral keluarga yaitu : proses transmisi multigenerasi, proses proyeksi keluarga, posisi saudara kandung, dan “emotional cutoff”(lihat Tabel 1).




Tabel 1. Konsep sentral Terapi Sistem Keluarga
Konsep Definisi
Diferensiasi Pemisahan antara intelektual dan emosi sehingga seseorang tidak didominasi oleh kecemasan reaktif dari sistem emosi keluarga.
Segitiga Proses emosional yang dapat diprediksi yang terjadi ketika kesulitan terjadi dalam hubungan yang penting.
Sistem emosional keluarga inti Pola interaksi antara anggota keluarga dan tingkatan pola ini dapat meningkatkan fusi emosional.
Proses transmisi multigenerasi Asumsi bahwa pola hubungan dan gejala dalam suatu keluarga berasal dari beberapa generasi sebelumnya; genogram empat atau lima generasi dapat menunjukkan pola seperti ini.
Proses proyeksi keluarga Proyeksi dari masalah pasangan terhadap satu atau lebih anak untuk menghindari intensitas fusi emosional antar pasangan.
Posisi saudara kandung Urutan kelahiran dan jenis kelamin dilihat sebagai faktor yang menentukan dalam kepribadian seseorang.
Emotional cutoff Cara disfungsional dari beberapa anggota keluarga dalam menghadapi intensitas konflik keluarga dengan menggunakan isolasi emosional atau menjauh secara geografis.

Semua konsep in merujuk pada proses keluarga yang menghambat atau meningkatkan munculnya fusi emosional pada individu keluarga. Bowen percaya bahwa pergerakkan anggota keluarga ke arah peningkatan kedekatan atau menjauh secara emosional merupakan hal yang refleksif dan dapat diprediksi.
Bentuk terapi yang dapat digunakan dapat berupa terapi dengan kedua pasangan, atau terapi yang hanya melibatkan salah satu anggota keluarga. Bentuk yang kedua ini paling sering digunakan pada dewasa muda yang masih sendiri dan dapat mendukung dirinya sendiri. Metode ini meliputi pemahaman tentang fungsi sistem keluarga dan segitiga. Metode ini juga melibatkan kegiatan untuk tetap menjaga hubungan emosional aktif dengan anggota keluarga yang penting dengan cara menelepon, menulis surat, dan melakukan kunjungan yang direncakan. Terapi ini memerlukan pengembangan kemampuan untuk mengontrol reaktivitas emosi untuk menghindari menjadi bagian dari segitiga selama kunjungan dengan keluarga. Tujuannya adalah untuk mencapai diferensiasi diri yang lebih besar daripada sebelumnya. Orang tersebut juga mengembangkan hubungan pribadi orang ke orang dengan anggota keluarga yang penting. Terapi ini disebut “coaching”. Ketika seseorang mengetahui tentang segitiga dan metode untuk menghilangkannya di dalam keluarga, sesi terapi dapat ditunda seperlunya untuk melihat upaya diferensiasi diri yang dilakukan terus menerus.
Bentuk terapi yang terakhir adalah multiple family therapy (terapi keluarga multipel). Terapi ini berbeda dengan terapi kelompok keluarga multipel. Terapi keluarga multipel dilakukan untuk menjamin agar tidak terjadi pertukaran emosional diantara keluarga. Bowen percaya bahwa pertukaran emosional ini mendorong fusi dari keluarga yang lain ke dalam massa ego yang lebih besar dan tidak terdiferensiasi.
Pada terapi keluarga multipel, perawat bekerja dengan setiap keluarga seperti hanya satu keluarga tersebut yang mendapatkan terapi, sementara keluarga lain yang hadir mengobservasi kegiatan tersebut. Ketika keluarga menjawab pertanyaan rinci tentang masalahnya, perawat tidak memfokuskan perasaan dan hanya bertanya pada satu pasangan sementara pasangannya mendengarkan. Kemudian pasangan yang diam ditanya untuk membagi pikiran atau reaksi terhadap apa yang telah dikatakan oleh pasangannya. Anggota keluarga yang mengobsevasi dapat bicara pada perawat tentang keluarga yang lain akan tetapi tidak dapat berbicara langsung dengan keluarga tersebut.

2. Terapi Keluarga Struktural
Terapi keluarga struktural adalah teori dan teknik berdasarkan pada individu di dalam konteks sosial. Asumsinya adalah bahwa perilaku merupakan suatu konsekuensi dari organisasi keluarga dan pola interaksi antara anggota kelaurga. Perubahan dalam organisasi keluarga dan proses umpan balik antara anggota akan mengubah konteks dalam fungsi seseorang. Oleh karena itu proses didalam orang tersebut dan perilakuknya juga akan berubah.
Pertanyaan dasar dari terapis terapi keluarga ini adalah “Dengan cara apa struktur keluarga ini mempertahankan gejala maladaptif ini ?” Struktur keluarga merupakan kumpulan tuntutan yang tidak terlihat yang menentukan cara anggota keluarga berinteraksi. Sistem keluarga bekerja melalui pola transaksional. Transaksi yang berulang akan membentuk pola bagaimana, kapan, dan dengan siapa berinteraksi, dan pola ini menentukan apakah sistem ini fungsional atau disfungsional.
Komponen-komponen dalam terapi keluarga struktural adalah transisi dalam keluarga, tahapan dalam perkembangan keluarga, dan struktur keluarga. Terapi keluarga struktural mengubah hubungan antara satu orang dan konteks yang dikenal dimana orang tersebut berfungsi. Hal ini mengubah pengalaman subyektif dan memungkinkan lebih banyak perilaku fungsional yang muncul.
Komponen penting dari terapi keluarga struktural adalah proses bergabung ke dalam keluarga. Perawat sementara menjadi bagian dari sistem keluarga, beradaptasi dengan peraturan dan perilaku keluarga. Tujuannya adalah untuk membantu keluarga sehingga perawat mendapatkan pengalaman masuk ke dalam sistem keluarga. Jika hal ini tidak dilakukan maka restrukturisasi dan perubahan keluarga tidak mungkin tercapai.
Metode untuk dapat bergabung dengan keluarga yaitu dengan mirroring atau mimicking (menyesuaikan dengan mood, kecepatan, atau pola komunikasi keluarga), menghormati nilai keluarga, menemukan elemen yang hampir sama, mencari kekuatan keluarga, mendukung subsistem keluarga, dan tracking (meminta elaborasi penjelasan dengan rincian dan contoh yang konkrit dalam diskusi keluarga).



3. Terapi Strategis
Terapi keluarga strategis dikembangkan dari teori komunikasi. Ahli komunikasi menyatakan bahwa semua perilaku, tidak hanya perilaku verbal, merupakan komunikasi. Mereka mengenali bahwa sebagian besar komunikasi terdiri dari berbagai tingkat antara pengirim dan penerima, dan kepentingan dari setiap pesan tergantung pada penguatan, kontradiksi, atau dikerangkai oleh pesan lain.
Teori lain menyatakan bahwa komunikasi adalah proses yang terjadi terus menerus. Tidak ada titik awal dan titik akhirnya dalam menstimulus respon pola penguatan dari interaksi manusia.
Terdapat tiga masalah umum dalam komunikasi yaitu diskualifikasi, diskonfirmasi, dan komunikasi yang tidak kongruen.
Komponen terapi strategis ini aadalah membuat perbedaan antara kesulitan dan masalah. Kesulitan adalah kondisi yang tidak diingankan dari penyimpangan yang dapat dihilangkan dengan penyelesaian logis atau tidak diinginkan, maslah kehidupan umum yang harus dijalani. Masalah timbul dari kesulitan kecil yang meningkat yang terjadi karena salah penanganan.
Terapi strategis tidak memperhatikan riwayat terjadinya masalah atau motivasi dibaliknya, juga tidak meliaht karakteristik orang dan tempat terjadinya. Intervensi dilakukan dengan pasien atau anggota keluarga lain, atau keduanya, tergantung pada siapa yang paling perhatian dengan maslah tersebut. Orang ini yang memiliki kesediaan paling besar untuk berubah. Intervensi yang efektif dapat dilakuan melalui anggota dari sistem untuk memberikan umpan balik yang positif.

peawatan keluarga

BUKU AJAR
PENGKAJIAN KEPERAWATAN KELUARGA

Deskripsi :
Pengkajian keperawatan keluarga merupakan suatu tahapan dimana seorang perawat mengambil informasi secara terus menerus terhadap anggota keluarga dan lingkungannya. Pengkajian keluarga ini meliputi aspek yang berkaitan dengan data demografi dan sosiobudaya, data lingkungan keluarga, struktur dan fungsi keluarga, stres dan koping keluarga, pengkajian fisisk anggota keluarga dan harapan-harapan keluarga terhadap pelayanan kesehatan. Pada akhir materi ini diharapkan peserta didik dapat mendemontrasikan kegiatan pengkajian melalui kegiatan role play di kelas.

Tujuan belajar-mengajar :
1. Peserta didik mampu memahami konsep dasar pengkajian keperawatan keluarga
2. Peserta didik mampu mengidentifikasi data umum (demografi dan sosio-kultural) keluarga
3. Peserta didik mampu mengidentifikasi data lingkungan keluarga
4. Peserta didik mampu mengidentifikasi data struktur dan fungsi keluarga
5. Peserta didik mampu mengidentifikasi data stres dan koping keluarga
6. Peserta didik mampu mengidentifikasi data pengkajian fisik anggota keluarga
7. Peserta didik mampu mendemontrasikan pengkajian keperawatan keluarga
8. Peserta didik mampu menerapkan hasil pengkajian untuk membuat diagnosa keperawatan keluarga


KONSEP DASAR PENGKAJIAN KELUARGA
Definisi Keluarga  
Dalam kehidupan sehari-hari istilah keluarga sering dikacaukan dengan istilah rumah tangga. Selain itu, secara konseptual konseptualisasi keluarga akan tergantung pada sudut pandang yang digunakan dan akan berubah sesuai dengan perubahan social yang terjadi. Kamus Webster (1993) mendefinisikan keluarga, antara lain, sebagai berikut:
1. A social unit consisting of parent and the children they rear (sebuah unit social yang terdiri dari orang tua dan anak yang mereka asuh);
2. A group of people related by ancestry or marriage (sekelompok orang yang dihubungkan oleh keturunan atau perkawinan).
Definisi in jelas masih sangat sederhana. Yang ditekankan hanya anggota, besaran unsur kumpulan orang yang membentuk kelompok: hak dan kewajiban setiap anggota dan fungsinya belum disentuh, meskipun dasar ikatan pengelompokan itu sudah dikemukakan, yakni perkawinan atau keturunan.
 Pendapat Sumardjan (1993) bahwa keluarga adalah sekelompok manusia yang Para warganya terikat dengan jalur keturunan sejalur dengan definisi di atas. Definisi formal tentang keluarga di Indonesia juga sejalan dengan definisi di atas. Peraturan pemerintah Nomor 21 than 1994 tentang Penyelenggaraan Pembangunan Keluarga Sejahtera mengemukakan bahwa keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-istri, atau suami, istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya. 
 Jelas pula, definisi ini juga belum memasukkan kecenderungan bentuk keluarga modern misalnya commuter family atau keluarga berdasarkan kontrak perkawinan. Tetapai sebagai petunjuk awal, definisi ini sudah cukup memadai untuk menelusuri konseptualisasi lain tentang keluarga.
 Burgerss dan Locke (Guhardja dkk., 1992) memasukkan ciri tambahan ke dalam konsep keluarga. Menurut mereka, anak yang diasuh tidak harus dari keturunannya sendiri, tetapi bisa juga anak angkat (adopsi). Burgess dan Locke mendefinisikan keluarga sebagai unit social terkecil yang terdiri dari individu-individu yang terikat oleh perkawinan (suami-istri), darah atau adopsi (orang tua -anak); dan dalam kasus keluarga luas terlihat adanya nenek atau kakek dengan cucu.
 Dengan demikian yang dimaksud dengan keluarga adalah: 1). Keluarga terdiri dari orang orang yang disatukan dalam ikatan perkawinan, darah dan ikatan adopsi; 2).Para anggotanya hidup bersama-sama dalam satu rumah tangga; 3).Anggota kleuarga berinteraksi dan berkomunikasai satu dengan yang lain dalam peran-peran social keluarga;4). Keluarga menggunakan kultur yang sama. (Fiedman, 1998)

Pengkajian keluarga
 Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengunpulan data dari berbagai sumber data untuk mengidentifikasi status kesehatan klien (Iyer et al.,1996). Tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien. Oleh karena itu pengkajian yang lengkap dan akurat sesuai dengan kenyataan dan kebenaran data sangat penting dalam merumuskan suatu diagnosa keperawatan. 
 Data dasar yang komprehensif merupakan kumpulan data yang berisikan mengenai status kesehatan klien, kemampuan klien untuk mengelola kesehatan dan keperawatannya terhadap dirinya sendiri, dan hasil konsultasi dari medis atau profesi kesehatan lainnya. Sedangkan data fokus keperawatan adalah data tentang perubahan-perubahanatau respon klien terhadap kesehatan dan masalah kesehatannnya serta hal-hal yang mencakup tindakan yang dilaksanakan terhadap klien.
 Dalam pengkajian keluarga data dasar keluarga menjadi penting untuk dikaji berdasarkan kondisi yang ditemui saat pengkajian itu dilaksanakan yang menyangkut aspek data demografi dan sosialbudaya, data lingkungan keluarga, data perkembangan keluarga, data struktur dan fungsi keluarga, data koping keluarga dan data tentang pengkajian fisik tiap anggota keluarga. Setelah diketahui data dasar keluarga maka akan dapat dijumpai respon keluarga terhadap masalah kesehatan yang ada, sehinggga selanjutnya dapat dilakukan data fokus keperawatan yakni mengidentifikasi data spesifik yang ditentukan oleh perawat, klien dan keluarga berdasarkan keadan klien. 
 Dalam pengumpulan data dikenal dua tipe data pengkajian yaitu data subyektif dan data obyektif. Data subyektif adalah data yang didapatkan dari keluarga/klien sebagai suatu pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian, data ini termasuk data sekunder dari fasilitas kesehatan lainnya. Sedangkan data objektif adalah data yang dapat diobservasi dan diukur (Iyer et al., 1996), misalnya data mengenai kondisi lingkungan rumah dan data hasil pemeriksaan fisik anggota keluarga. Pengumpulan data ini harus memiliki karakteristik: lengkap, akurat, nyata, dan relevan.

Beberapa konsep yang terkait dengan pengkajian keluarga:
1. Bentuk keluarga
 Bentuk keluarga banyak macamnya. Goldenberg (1980) membedakan bentuk keluarga atas sembilan macam yaitu :
1. Keluarga inti (nuclear family), adalah keluarga yang terdiri dari suami, istri serta anakanak kandungnya.
2. Keluarga besar (extended family), adalah keluarga yang disamping terdiri dari suami, istri dan anak-anak kandung, juga terdiri dari sanak saudara lainnya, baik menurut garis keturunan vertical maupun horizontal.
3. Keluarga campuran (blended family), adalah keluarga yang terdiri dari suami istri,anak kandung serta anak tiri
4. Keluarga menurut hukum umum (common law family), adalah keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang tidak terikat dalam perkawinan syah serta anak-anak mereka tinggal bersama.
5. Keluarga orang tua tunggal (single parent family), adalah keluarga yang terdiri dari pria atau wanita , mungkin karena telah bercerai, berpisah, ditinggal mati, atau mungkin tak pernah menikah, serta anak-anak mereka tinggl bersama.
6. Keluarga hidup bersama (commune family), adalah keluarga yang terdiri dari pria, wanita dan anak-anak yang tinggal bersama berbagi hak dan tanggung jawab serta memiliki kekayaan bersama.
7. Keluarga serial (serial family), adalah keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang telah menikah dan mungkin telah punya anak, tetapi kemidian bercerai dan masing-masing menikah lagi serta memiliki anak-anak dengan pasangan masing-masing, tetapi semuanya menganggapsebagai satui keluarga.
8. Keluarga gabungan (composit family), keluarga yang terdiri dari suami dengan beberapa istri dan anak-naknya atau istri dengan beberapa suami dan anak-anaknya yang hidup bersama 
9. Keluarga tinggal bersama (cohabitation family), adalh keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang hiduip bersama tanpa ada ikatan perkawinan yang syah.

Sedangkan Sussman (1974) dalam Fiedman (1998) membedakan atas dua bentuk yakni keluarga tradisional dan keluarga non tradisional. Keluarga tradisional adalah keluarga yang pembentukannya sesuai dengan atau tidak melanggar norma-norma kehidupan masyarakatyang secara tradisional dihormati bersama. Norma-norma tersebut yang terpenting adalah keabsahan ikatan perkawinan antara suami dan istri. Sedangkan keluarga nontradisional sebaliknya. 
 
2. Struktur keluarga
Menurut Friedman struktur keluarga terdiri atas :
1. Pola dan proses komunikasi.
2. Struktur peran.
3. Struktur kekuatan.
4. Nilai-nilai keluarga.

Pola dan Proses Komunikasi
Pola interaksi keluarga yang berfungsi : (1) bersifat terbuka dan jujur, (2) selalu menyelesaikan konflik keluarga, (3) berpikiran positif, dan (4) tidak mengulang-ulang isu dan pendapat sendiri.

Karakteristik Komunikasi yang berfungsi 
Karakteristik pengirim
1. Yakin dalam mengemukakan sesuatu atau pendapat
2. Apa yang disampaikan jelas dan berkualitas
3. Selalu meminta dan menerima umpan balik.

Karakteristik Penerima
1. Siap mendengarkan
2. Memberikan umpan balik
3. Melakukan validasi

Struktur Peran
Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan posisi sosial yang diberikan. Yang dimaksud dengan posisi atau status adalah posisi individu dalam masyarakat, misalnya status sebagai istri/suami atau anak.

Struktur Kekuatan
Kekuatan merupakan kemampuan (potensial atau aktual) dari individu untuk mengendalikan atau mempengaruhi untuk merubah perilaku orang lain kearah positif.

Tipe struktur kekuatan : (1) Legitimate Power/Authority; (2) Refrent Power; (3) Reward; (4) Power; (5) Coercive; (6) Affectif power.

Nilai-nilai Keluarga 
Nilai merupakan suatu sistem, sikap dan kepercayaan yang secara sadar atau tidak, mempersatukan anggota keluarga dalam satu budaya. Nilai keluarga juga merupakan suatu pedoman perilaku dan pedoman bagi perkembangan norma dan peraturan.
Norma adalah pola perilaku yang baik, menurut masyarakat berdasarkan sistem nilai dalam keluarga.
Budaya adalah kumpulan dari pola perilaku yang dapat dipelajari, dibagi dan ditularkan dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah.

3. Fungsi Keluarga
 Dalam memenuhi kebutuhan kehidupannnya keluarga memiliki fungsi-fungsi dasar keluarga. Fungsi-fungsi tersebut di Indonesia dikenal dengan delapan fungsi keluarga ( PP No. 2001 th.1994) yaitu fungsi keagamaan; fungsi budaya; fungsi cinta kasihfungsi melindungi; fungsi reproduksi; fungsi sosialisasi dan pendidikan; fungsi ekonomi; dan fungsi pembinaan lingkungan. Sedangkan dalam keperawatan keluarga dikenal dengan lima fungsi keluarga ( Friedman, 1998), yaitu :
1. Fungsi Afektif ( affective function), adalah fungsi keluarga dalam pembentukan dan pemeliharaan kepribadian anak-anak, pemantapan kepribadian orang dewasa serta pemenuhan kebutuhan psikologis para anggota keluarganya.
2. Fungsi Sosialisasi dan penempatan sosial (socialization and social placement function), adalah fungsi keluraga dalam mempersiapkan anak-anak sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang produktif dan atau memberikan status yang dimiliki keluarga kepada semua anggota keluarga
3. Fungsi reproduksi ( reproduction function), adalah fungsi menjaga kelangsungan garis keturunan dan atau menambah anggota keluarga yang kelak akan menjadi anggota masyarakat.
4. Fungsi ekonomis ( economic function), fungsi keluarga dalam menyediakan sumber ekonomi keluargasecara cukup serta mengatur pemakaiannya secara efektif.
5. Fungsi perawatan kesehatan (health care function), unstuk memenuhi kebutuhan fisik (provision of physical necessity)

FungsiAfektif
Fungsi afektif berhubunganerat dengan fungsi internal keluarga, yang merupakan basic kekuatan keluarga. Fungsi afektif berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan melaksanakan fungsi afektif tampak pada kebahagiaan dan kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Tiap anggota keluarga saling mempertahankan iklim yang positif. Hal tersebut dipelajari dan dikembangkan melalui interaksi dan hubungan dalam keluarga. Dengan demikian keluarga yang berhasil melaksanakan fungsi yang afektif, seluruh anggota keluarga dapat mengembangkan konsep diri yang positif.

Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga dalam melaksanakan fungsi afektif adalah :
a. Saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling menerima, saling mendukung antar anggota keluarga. Setiap anggota yang mendapatkan kasih sayang dan dukungan dari anggota yang lain maka kemapuannya untuk memberikan kasih sayang akan meningkat, yang pada akhirnya tercipta hubungan yang hangat dan saling mendukung. Hubungan intim di dalam keluarga merupakan modal dasar dalam memberi hubungan dengan orang lain di luar keluarga atau masyarakat.
b. Saling menghargai. Bila anggota keluarga saling menghargai dan mengakui keberadaan hak setiap anggota keluarga serta selalu mempertahankan iklim yang positif maka fungsi afektif akan tercapai.
c. Ikatan dan identifikasi. Ikatan keluarga dimulai sejak pasangan sepakat memulai hidup baru. Ikatan antar anggota keluarga dikembangkan melalui proses identifikasi dan penyesuaian pada berbagai aspek kehidupan anggota keluarga. Orang tua harus mengembangkan proses identifikasi yang positif sehingga anak-anak dapat meniru perilaku yang positif tersebut.

Fungsi afektif merupakan sumber “energi” yang menentukan kebahagiaan keluarga. Keretakan keluarga, kenakalan anak atau masalah keluarga timbul karena fungsi afektif yang tidak terpenuhi.

Fungsi Sosialisasi
Sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu, yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam lingkungan sosial (Friedman, 1986).
Sosialisasi dimulai sejak lahir. Keluarga merupakan tempat individu untuk belajar sosialisasi. Keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dicapai melalui interaksi atau hubungan antar anggota keluarga yang diujudkan dalam sosialisasi. Anggota keluarga belajar disiplin, belajar tentang norma-norma, budaya dan perilaku melalui hubungan dan interaksi dalam keluarga.

Fungsi Reproduksi
Keluarga berfungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia. Dengan adanya program keluarga berencana maka fungsi ini sedikit terkontrol.

Fungsi Ekonomi
Fungsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga, seperti kebutuhan akan makanan, pakaian dan tempat berlindung (rumah).

Fungsi Perawatan Kesehatan
Keluarga juga berfungsi unrtuk melaksanakan praktek asuhan kesehatan, yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan/atau merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuahan kesehatan mempengaruhi status kesehatan. Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan. Keluarga yang dapat melaksanakan tugas kesehatan berarti snggup menyelesaikan masalah kesehatan keluarga.
Tugas kesehatan keluarga adalah sebagai berikut (Friedman, 1998) :
a. Mengenal masalah kesehatan
b. Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat
c. Memberi perawatan pada anggota keluarga.
d. Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat.
e. Mempertahankan hubungan dengan (menggunakan) fasilitas kesehatan masyarakat.
Dengan melihat fungsi-fungsi diatas apabila sebuah keluarga dapat mewujudkannnya maka akan terwujud keluarga yang sejahtera

4. Siklus kehidupan keluarga 
 Untuk dapat memahami dengan lengkap tentang perkembangan keluarga perlu diketahui bagaimana siklus kehidupan keluarga. Hal in sangat penting bagi perawat keluarga dalam rangka mengidentifikasi permasalahan kesehatan yang ditemukan dalam setisp tahap perkembangannnya. Duvall (1977) mengemukakan ada 8 tahapan pokok dari siklus kehidupan keluarga berikut dengan tugas tugas perkembangannya, yaitu :
1. Tahap awal perkawinan ( newly married)
Pada tahap in suatu pasangan baru saja kawin dan belum mempunyai anak, biasanya berlangsung rata-rata selama 2 than.
Tugas perkembangannya adalah penyesuaian diri dengan kehidupan keluarga yang baru dibentuk baik dalam bidang kepribadian, emisional dan atau pun komunikasi antar suami dan istri ataupun dengan anggota keluarga dari pasangan masing-masing. Tugas bantuan pelayanan kesehatan dapat dilakukan oleh perawat komunitas antara lain konseling kesehatan, keluarga berencana, pelayanan ante natal dan konseling persalinan.
2. Tahap keluarga dengan bayi (birth of the first child)
Pada tahap in keluarga tersebut telah mempunyai bayi, dapat satu atau dua orang. Di Amerika Serikat yang dimaksud bayi adalah sampan dengan umur 30 bulan dan biasanya tahap in berlangsung rata-rata selama 2,5 than. 
Tugas perkembangannya mencakup antara lain menjadi orang tua yang baik, menyesuaikan penghasilan deengan pengeluaran tambahan, merawat bayi dan menyesuaikan kegiatan dengan jadwal pengasuhan bayi. Sedangkan tugas bantuan pelayanan kesehatan antara lain pertolongan persalinan, pelayanan pos natal care, perawatan bayi termasuk imunisasi dan konseling KB.
3. Tahap keluarga dengan anak usia prasekolah (family with preschool children)
Pada tahap in anak pra sekolah berumur 30 bulan sampan 6 than dan berlangsung rata-rata 3,5 than.
Tugas perkembangannya adalah menjadi orang tua yang baik, menyesuaikan penghasilan dengan pengeluaran tambahan, membesarkan balita dan pengaturan serta pengembangan sosialisasi balita. Tugas bantuan pelayanan kesehatan dapat berupa pelayanan kesehatan balita, penanganan kecelakaan, konseling pendidikan pra sekolah dan konseling pelayanan KB.
4. Keluarga dengan anak usia sekolah (family with children school), anak pertama usia 6-13 than.
Tugas perkembangannya antara lain menjadi orang tua yang baik, menyesiaikan penghasilan dengan pengeluaran tambahan, membesarkan anak usia sekolah dan pengaturan serta pengembangan fisik, social, emosional serta kecerdasan anak usia sekolah. Tugas bantuan pelayanan kesehatan dapat berupa pelayanan kesehatan anak usia sekolah (UKS), penangan kecelakaan, konseling masalah perilaku dan nasehat KB.
5. Tahap keluarga dengan anak usia remaja (family with teenagers) anak berumur antara 13-20 than.
Tugas perkembangannya menjadi orang tua yang baik, menyesiaikan penghasilan dengan pengeluaran tambahan, membesarkan anak usia remaja, memelihara keharmonisan keluarga untuk pengembangan mental, emosional dan kecerdasan anak usia remaja, serta mempersiapkan diri untuk berbeda pendapat dengan anak. Tugas bantuan kesehatan mencakup pelayanan kesehatan usia remaja, penangan kecelakaan, konseling kenakalan remaja.
6. Tahapan keluarga dengan anak meninggalkan keluarga (family as launching center). Pada tahap in satu persatu anak meninggalkan keluarga yang dimulai anak tertua dan diakhiri anak terkecil. Biasanya tahap in berlangsung rata-rata 8 than.
Tugas perkembangan keluarga mencakup antara lain mempersiapkan diri utnuk ditinggalkan anak-anak, mempersiapkan diri untuk berkomunikasi dengan anak-anak sebgai orang dewasa, meningkatkan hubungan suami istri dan mempersiapkan diri untuk menjadi mertua, kakek dan nenek yang baik. Tugas bantuan kesehatan dapat berupa nasehat hubungan antara anggota kelruarga dan nasehat untuk hidup mandiri.
7. Tahap orang tua usia menengah (parent alone in middle years). Tahap in semua anak telah meninggalkan keluarga yang tinggal hanyalah suami isttri dengan usia menengah, tahap in biasanya berlangsung rata-rata 15 than. 
Tugas perkembangan keluarga yang harus dilaksanakan oleh keluarga mencakup antara lain mempersiapkan diri untuk memasuki usia pensiun, mempersiapkan diri untuk menjadi mertua, kakek atau nenek yang baik dan mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai penyakit dan atau kelainan degeneratif. Tugas bantuan pelayanan kesehatan antara lain konseling persiapan masa pensiun, konseling hidup madiri tanpa anak, konseling menghadapi berbagai penyakit degeneratif serta keadaan menopause.
8. Tahap keluarga usia jompo (aging family member). Tahap in suami istri telah berusia lanjut sampan meninggal dunia. Tahap in biasanya berlangsung selama 10-15 than. Tugas perkembangan keluarga mencakup antara lain mengisi masa pensiun dengan pelbagai kegiatan yang bermanfaat, mengatur pengeluaran sesuai dengan uang pensiun, mempersiapkan diri untuk kehilangan pasangan, serta mempersiapkan diri untuk menghadapai berbagai penyakit atau kelainan degeneratif. Tugas bantuan pelayanan kesehatan adalah nasehat mengisi masa pensiun dedngan pelbagai kegiatan yang bermanfaat, nasehat kebugaran jasmani, nasehat apabila kehilangan pasangan, nasehat apabila mengghadapi pelbagai penyakit degeneratif serta bantuan psikologis.

LANGKAH-LANGKAH PENGKAJIAN 
Persiapan pengkajian keluarga:
1. Menetapkan keluarga sasaran yang akan dikunjungi serta menentukan kasus-kasus yang perlu ditindaklanjuti di rumah, baik melalui seleksi kasus di Puskesmas, maupun selesi kasus di lapangan/masyarakat.
2. Menetapkan jadual kunjungan:
a. Membuat jadual kunjungan dan nama-nama keluarga yang akan di kunjungi
b. Membuat kesepakan dengan keluarga tentang waktu kunjungan dan kehadiran anggota keluarga pengambil keputusan
3. Menyiapkan perlengkapan pengkajian lapangan yang dibutuhkan :
a. Mempelajari riwayat penyakit klien dari status /rekam kesehatan keluarga dan catatan lain yang ada kaitannya dengan klien tersebut
b. Membuat catatan singkat tentamng permasalahan keluarga dan klien sebagai dasar kajian lebih lanjut.
c. Formulir atau catatan pengkajian keluarga 
d. PHN Kit lengkap yang berisi alat pengkajian fisik anggota keluarga

Dalam pelaksanaan pengkajian di rumah keluarga :
1. Menciptakan suasana/hubungan yang baik dengan semua anggota keluarga (menciptakan rapport)
2. Menggunakan bahasa yang sederhana dan dapat dimengerti keluarga
3. Memperkenalkan diri dengan sopan dan ramah
4. Menginformasikan tujuan kunjungan rumah dan membuat kontrak waktu kunjungan rumah 

Hal-hal yang perlu dikaji dalam keluarga adalah :
I. Data Umum
Pengkajian terhadap data umum keluarga meliputi :
1. Nama kepala keluarga(KK)
2. Alamat dan telepon
3. Pekerjaan kepala keluaga 
4. Pendidikan kepala keluarga 
5. Komposisi keluarga dan genogram 
6. Tipe keluarga
Menjelaskan mengenai jenis tipe keluarga beserta kendala atau masalah-masalah yang terjadi dengan jenis tipe keluarga tersebut.
7. Suku bangsa .
Mengkaji asal suku bangsa keluarga tersebut serta mengidentifikasi budaya suku bangsa tersebut terkait dengan kesehatan. 
8. Agama
Mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan yang dapat mempengaruhi kesehatan.
  9. Status sosial ekonomi keluarga 
  Status sosial ekonomi keluarga ditentukan oleh pendapatan baik dari kepala keluarga maupun anggota keluarga lainnya. Selain itu status ekonomi sosial keluarga ditentukan pula oleh kebutuhan- kebutuhan yang dikeluarkan oleh keluarga serta barang-barang yang dimiliki oleh keluarga. 
10. Aktivitas rekreasi keluarga.
Rekreasi keluarga tidak hanya dilihat kapan saja keluarga pergi bersama sama untuk mengunjungi tempat rekreasi tertentu namun dengan menonton TV dan mendengarkan radio juga merupakan aktifitas rekreasi.

II. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga 
11. Tahap perkembangan keluarga saat ini 
Tahap perkembangan keluarga ditentukan dengan anak tertua dari keluarga inti. Contoh: Keluarga bapak A mempunyai 2 orang anak , anak pertama berumur 7 tahun dan anak kedua berumur 4 tahun , maka keluarga bapak A berada pada tahapan perkembangan keluarga dengan usia anak sekolah.
12. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi 
Menjelaskan mengenai tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh keluarga serta kendala mengapa tugas perkembangan tersebut belum terpenuhi.
13. Riwayat keluarga inti.
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga inti, yang meliputi riwayat penyakit keturunan , riwayat kesehatan masing masing anggota keluarga , perhatian terhadap pencegahan penyakit (status imunisasi) , sumber pelayanan kesehatan yang biasa digunakan keluarga seta pengalaman pengalaman terhadap pelayanan kesehatan

14. Riwayat keluarga sebelumnya.
Dijelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga dari pihak suami dan istri.

III. Pengkajian lingkungan
15. Karakteristik rumah
Karakteristik rumah diidentifikasi dengan melihat luas rumah , tipe rumah, jumlah ruangan , jumlah jendela ,jarak septic tank dengan sumber air , sumber air minum yang digunakan serta denah rumah.
16. Karakteristik tetangga dan komunitas RW
Menjelaskan mengenai karakteristik dari tetangga dan komunitas setempat , yang meliputi kebiasaan , lingkungan fisik , aturan/kesepakatan pendduduk setempat , budaya setempat yang mempengaruhi kesehatan.
17. Mobilitas geografis keluarga
Mobilitas geografis keluarga ditentukan dengan kebiasaan keluarga berpindah tempat.
18. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Menjelaskan mengenai waktu yang digunakan keluarga untuk berkumpul serta perkumpulan keluarga yang ada dan sejauh mana keluarga interaksinya dengan masyarakat.
19. Sistem pendukung keluarga 
Yang termasuk pada sistem pendukung keuarga adalah jumlah anggota keluarga yang sehat , fasilitas fasilitas yang dimiliki keluarga untuk menunjang kesehatan. Fasilitas mencakup fasilitas fisik , fasilitas psikologi atau dukungan dari anggota keluarga dan fasilitas sosial atau dukungan dari masyarakat setempat.

IV. Dimensi Struktur Keluarga
20. Pola komunikasi keluarga
Menjelaskan mengenai cara berkomunikasi antar anggota keluarga 
21. Struktur kekuatan keluarga 
Kemampuan anggota keluarga mengendalikan dan mempengaruhi orang lain untuk mengubah perilaku.
22. Struktur peran 
Menjelaskan peran dari masin masing anggota keluarga baik secara formal maupun informal.
23. Nilai atau norma keluarga 
Menjelaskan mengenai nilai dan norma yang dianut oleh keluarga, yang berhubungan dengan kesehatan.

V. Fungsi keluarga 
24. Fungsi efektif 
Hal yang perlu dikaji yaitu gambaran diri anggota keluarga, perasaan memiliki dan dimiliki dalam keluarga, dukungan keluarga terhadap anggota keluarga lainnya , bagaimana kehangatan tercipta pada anggota keluarga dan bagaimana keluarga mengembangkan sikap saling menghargai.
25. Fungsi sosialisasi 
Hal yang perlu dikaji bagaimana interaksi atau hubungan dalam keluarga, sejauhana anggota keluarga belajar disiplin, norma, budaya dan perilaku.
26. Fungsi perawatan kesehatan
Menjelaskan sejauh mana keluarga menyediakan makanan , pakaian , perlindungan serta merawat anggota keluarga yang sakit. Sejauhmana pengetahuan keluarga mengenai sehat sakit. Kesanggupan keluarga di daam melaksanakan perawatan kesehatan dapat dilihat dari kemampuan keluarga dalam melaksanakan 5 tugas kesehatan keluarga, yaitu keluarga mampu mengenal masalah kesehatan, mengambil keputusan untuk melakukan tindakan, melakukan perawatan terhadap anggota yang sakit, menciptakan lingkungan yang dapat meningkatkan kesehatan dan keluarga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang terdapat di lingkungan setempat

Hal-hal yang perlu dikaji sejauh mana keluarga melakukan pemenuhan tugas perawatan keluarga adalah :
a. Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan, yang perlu dikaji adalah sejauhmana keluarga mengetahiu fakta-fakta dari masalah kesehatan yang meliputi pengertian, tanda dan gejala, faktor penyebab dan yang mempengaruhinya serta persepsi keluarga terhadap masalah.
b. Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat, hal yang perlu dikaji adalah:
1. Sejauhmana kemampuan keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya masalah.
2. Apakah masalah kesehatan dirasakan oleh keluarga.
3. apakah keluarga merasa menyerah terhadap masalah yang dialami.
4. apakah keluarga merasa takut akan akibat dari tindakan penyakit.
5. Apakah keluarga mempunyai sikap negatif terhadap masalah kesehatan.
6. Apakah keluarga dapat menjangkau fasilitas kesehatan yang ada 
7. Apakah keluarga kurang percaya terhadap tenaga kesehatan.
8. Apakah keluarga mendapat informasi yang salah terhadap tindakan dalam mengatasi masalah.  
c. Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit, yang perlu dikaji adalah:

27. Fungsi reproduksi 
Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi reproduksi keluarga adalah:
a. berapa jumlah anak
b. bagaimana keluarga merencanakan jumlah anggota keluarga 
c. Metode apa yang digunakan keluarga dalam upaya mengendalikan jumlah anggota keluarga.
28. Fungsi ekonomi
Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi ekonomi keluarga adalah:
a. Sejauh mana keluarga memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan.
b. Sejauhmana keluarga memanfaatkan sumber yang ada di masyarakat dalam upaya peningkatan ststus kesehatan keluarga .

VI. Stres dan koping keluarga
29. Stresor jangka pendek dan panjang
a. Stresor jangka pendek yaitu stesor yang dialami keluarga yang memerlukan penyelesaian dalam waktu kurang lebih 6 bulan.
b. Stresor jangka panjang yaitu stresor yang dialami keluarga yang memerlukan penyelesaian dalam waktu lebih dari 6 bulan.
30. Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/stresor
Hal yang perlu dikaji adalah sejauhmana keluarga berespon terhadap situasi/stresor
31. Strategi koping yang digunakan 
Strategi koping apa yang digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan
32. Strategi adaptasi disfungsional
Dijelaskan mengenai strategi adaptasi disfungsional yang digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan

VII. Pemeriksaan Fisik 
Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga. Metode yang digunakan pada pemeriksaan fisik tidak berbeda dengan pemeriksaan fisik di klinik

VIII. Haparan Keluarga 
Pada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan keluarga terhadap petugas kesehatan yang ada

Kamis, 06 November 2008

PROPOSAL PENELITIAN

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI TIDAK EKSLUSIF DI
POLI KIA RSUD CIBINONG BOGOR TAHUN 2008








OLEH :

HILLY TISVA
NIM .AK.2.07.19.




SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BHAKTI KENCANA BANDUNG 2008



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Air Susu Ibu adalah makanan paling bergizi untuk bayi baru lahir, ASI memberikan perkembangan fisik dan mental yang optimal, memberikan rasa aman dan memperkuat sistem kekebalan, kualitas ASI tidak dapat ditiru. ASI juga steril, mudah dibawa-bawa, suhu yang tepat untuk bayi dan tersedia setiap saat. (Suharjo, 2003:68)
ASI ekslusif atau lebih tepat pemberian ASI secara ekslusif adalah bayi yang hanya diberikan ASI saja, tanpa tambahan cairan seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi dan tim.pemberian ASI secara ekslusif dianjurkan untuk jangka waktu setidaknya 4 bulan bila mungkin 6 bulan. (Roesli, 2000:3).
Pada tahun 1999 setelah pengalaman selama 9 tahun World Health Organization (WHO)/United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) memberikan klasifikasi tentang rekomendasi jangka waktu pemberian ASI ekslusif. Rekomendasi terbaru UNICEF bersama World Health Asembli (WHA) dan banyak negara lainnya adalah menetapkan jangka waktu pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan. (Roesli, 2000:3).
Selama perang dunia ke dua ketika sedang banyak wanita yang bekerja di luar rumah, pemberian susu formula meningkat dan bahkan semakin meningkat pada tahun 1950 an dan 1960 an. Pada akhir 1966 hanya ada 18% bayi yang disusui ibunya sesaat setelah meninggalkan rumah sakit dan persentase ini turun secara tajam begitu bayi sudah di rumah. Pada tahun 1970 an ibu menyusui di Amerika Serikat menyentuh angka terendah. (Nichol, 2003:6).
Program peningkatan penggunaan ASI khususnya ASI ekslusif merupakan program perioritas karena dampak yang keluar terhadap status gizi dan kesehatan balita : Derklarlasi Innocenti (Italia) tahun 1990 tentang perlindungan, promosi dan dukungan terhadap penggunaan ASI, disepakati pula untuk pencapaian ASI ekslusif sebesar 80% pada tahun 2000. KTT atau Kompresi Tingkat Tinggi tentang kesejahteraan anak pada tahun 1990 berisi pentingnya mendukung wanita dalam tugas pemberian ASI saja pada 4-6 bulan pertama kehidupan anak. (Roesli, 2000:4).
Di Indonesia Pada bulan Juli 1984 organisasi non pemerintah, PERINASIA dan BKPP ASI. Mengorganisasikan lokakarya mengenai ASI telah dihasilkan suatu rekomendasi tentang kebijakan dan aktifitas tentang pendidikan serta promosi penggunaan ASI. Menteri Kesehatan menekankan pada usaha pendidikan secara teknis dalam peningkatkan pemeliharaan ibu hamil dan ibu yang menyususi bayinya. Kebijakan Departemen Kesehatan Republik Indonesia tentang usaha peningkatan penggunaan ASI dinyatakan dalam seminar Perinatologi PERINASIA bulan Mei 1985 di Palembang dalam Invitational ASI Regional Lactation menajemen Work Shop Juli 1988 di Bali yang diselenggarakan PERINASIA dan Wall Start Sandiego Lactation Program. Dilakukan evaluasi hasil kerja yang dilakukan alumni Wall Start. Salah satu hasil dari Wall Start perluasan untuk penggunaan ASI dalam tahun 1988-1991 PERINASIA telah siap dengan program traveling seminar di 12 ibu kota propinsi di Indonesia sebagai perluasan program ASI. Semua program usaha di bawah koordinasi departemen kesehatan melalui Kantor Wilayah. (Sarwono, 2002:264).
Dari penelitian terhadap 900 ibu disekitar Jabotabek 1995 diperoleh fakta bahwa yang dapat memberikan ASI ekslusif selama 4 bulan hanya sekitar 5% padahal 98% ibu-ibu tersebut menyusui. Dari penelitian tersebut juga didapatkan bahwa 37,9% dari ibu-ibu tidak pernah mendapatkan informasi khusus tentang ASI, sedangkan 70,4% pernah mendengar info tentang ASI ekslusif. (Roesli, 2000:2).
Selain itu juga situasi di Indonesia mempunyai statistik yang berbeda antar daerah. Analisa keseluruhan masih kurang jelas, tetapi data yang ada menunjukan bahwa sebagian besar bayi hanya diberikan ASI secara parsial dan hanya 20% bayi mulai diberikan ASI pada 24 pertama setelah melahirkan, selain itu hanya 10-15% ASI ekslusif. Dibeberapa daerah walaupun angka nasional 39% pemberian makanan pendamping ASI dini sangat umum kadang dimulai dari bayi 30 minggu selain itu juga banyak ibu yang merasa ASInya tidak cukup. (Sigit Sidi, 2006).
Dari penelitian para peneliti ditemukan banyak manfaat ASI bagi bayi. Dibandingkan bayi-bayi yang diberi susu formula. Studi menunjukan kalau bayi-bayi yang diberi ASI lebih jarang diserang gangguan pancernaan yang parah, gangguan pernafasan ataupun infeksi telinga, kematian mendadak saat tidur (Sudden Dead Infant Syndrome) atau penyakit serius. ASI juga melindungi bayi dari serangan virus dan bakteri karena si ibu dengan cepat mengembangkan anti body (partikel-pertikel dalam darah yang dihasilkan untuk memerangi infeksi) dan membagi kekebalan itu pada si bayi lewat susu yang diberikan. Zat kekebalan ini melindungi bayi, bahkan ketika si ibu menderita deman atau flu. (Balaskas, 2001:38).
Bidan sebagai praktisi mandiri mempunyai peran penting untuk mendorong para ibu dalam memberikan ASI ekslusif dengan jalan melakukan penyuluhan mengenai pentingnya pemberian ASI ekslusif, sehingga dapat menghasilkan bayi-bayi yang sehat sebagai calon sumber daya manusia (SDM) yang handal berdasarkan hal-hal di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI tidak ekslusif di Poli KIA RSUD Cibinong Bogor Tahun 2008.

1.2 Perumusan Masalah
Faktor–faktor apa saja yang berhubungan dengan pemberian ASI tidak ekslusif di Poli KIA RSUD Cibinong Bogor Tahun 2008. ?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI tidak ekslusif di Poli KIA RSUD Cibinong Bogor Tahun 2008.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Diketahuinya distribusi pemberian ASI tidak ekslusif dengan pendidikan,pekerjaan, akses media massa di Poli KIA RSUD Cibinong Bogor Tahun 2008..
2. Diketahuinya faktor pendidikan berhubungan dengan pemberian ASI tidak ekslusif di Poli KIA RSUD Cibinong Bogor Tahun 2008.
3. Diketahuinya faktor perkerjaan ibu berhubungan dengan pemberian ASI tidak ekslusif di Poli KIA RSUD Cibinong Bogor Tahun 2008.
4. Diketahuinya faktor akses media masa berhubungan dengan pemberian ASI tidak ekslusif di Poli KIA RSUD Cibinong Bogor Tahun 2008.

Manfaat Penelitian
1. Bagi Petugas Kesehatan
Dapat dijadikan motivasi para petugas kesehatan khususnya Bidan untuk lebih meningkatkan kegiatan penyuluhan tentang pemberian ASI ekslusif.
2. Bagi Masyarakat
Dapat dijadikan masukan bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap pemberian ASI ekslusif.
3. Bagi Puskesmas
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi motivator bagi tenaga kesehatan agar lebih aktif dalam memberikan penyuluhan tentang ASI.
4. Bagi Peneliti
Dapat meningkatkan pengetahuan tentang ASI dan memberikan sumbangan pemikiran terhadap masyarak

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Air Susu Ibu (ASI)
Pemberian air susu ibu secara ekslusif menurut WHO bahwa semua bayi harus mendapatkan ASI secara ekslusif sejak lahir, sesegera mungkin sampai setidaknya usia 4 bulan dan bila mungkin hingga usia 6 bulan. ASI diberikan sebanyak dan sesering yang diinginkan untuk bayi, siang maupun malam Setidaknya 8 jam dalam sehari. (Roesli, 2000).
ASI secara ekslusif untuk bayi hanya diberikan ASI saja tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi dan tim. (Roesli, 2001:3 ).
ASI ekslusif adalah pemberian ASI (air susu ibu) sedini mungkin setelah persalinan, diberikan tanpa jadwal dan tidak diberi makanan lain walaupun hanya air putih sampai bayi berumur 6 bulan. (Purwati, 2004).
ASI ekslusif adalah pemberian ASI saja sejak bayi lahir sampai sekitar usia 6 bulan. (Sigit Sidi, 2004).
2.2 Manfaat ASI
Menurut Sigit Sidi (2004) Manfaat ASI dibagi menjadi 3 yaitu: Bagi bayi, Ibu, Keluarga dan Negara.
a. Manfaat untuk bayi
1. Nutrien (zat besi) yang sesuai untuk bayi : lemak, karbonhidrat, protein, garam dan mineral, vitamin.
2. Mengandung zat proaktif seperti laktoferin, lisozim, komplemen, C3 dan C4, faktor anti streptokokus anti body imunitas seluler tidak menimbulkan alergi.
3. Mempunyai psikologis yang menguntungkan.
Waktu menyusui kulit bayi akan menempel pada kulit ibu. Kontak kulit yang dini ini sangat besar pengaruhnya pada perkembangan bayi kelak. Walaupun seorang ibu dapat memberikan kasih sayang yang lebih besar dengan memberikan susu formula, tetapi menyusui sendiri akan memberikan efek psikologis yang besar, selain itu akan menimbulkan rasa aman bagi bayi.
4. Menyebabkan pertumbuhan yang baik.
Bayi yang mendapat ASI mempunyai kenaikan berat badan yang baik setelah lahir, pertumbuhan sesudah perinatal baik dan mengurangi obesitas.
5. Mengurangi kejadian karies dentis.
Insiden karies dentis pada bayi yang mendapat susu formula jauh lebih tinggi dibandingkan yang mendapat ASI, karena kebiasaan menyusui dengan botol dan dot terutama pada waktu akan tidur menyebabkan gigi lebih lama kontak dengan sisi susu pormula dan menyebabkan asam yang terbentuk yang akan merusak gigi. Kecuali jika ada anggapan kadar selenium yang tinggi dalam ASI akan mencegah karies dentis.
6. Mengurangi kejadian maloklusi.
Maloklusi rahang adalah kebiasaan lidah yang mendorong ke depan akbiat menyusui dengan botol dan dot.
b. Manfaat untuk ibu
1. Aspek kesehatan ibu
Isapan bayi pada payudara akan merangsang terbentuknya oksitosin oleh kelenjar hipofise. Oksitosin uterus dapat mencegah terjadinya pendarahan pasca persalinan. Penundaan haid dan berukurangnya pendarahan pasca persalinan mengurangi prevalensi anemia defisiensi besi. Kejadian karsinoma mammae pada ibu yang menyusui lebih rendah dibandingkan yang tidak menyusui.

2. Aspek keluarga berencana
Menyusui secara murni (ekslusif) dapat menjarangkan kehamilan. Ditemukan perataan jarak kelahiran ibu yang menyusui adalah 24 bulan, sedangkan yang tidak menyusui 11 bulan. Hormon yang mempertahankan laktasi berkerja menekan hormon untuk evolusi, sehingga dapat menunda kembalinya kesuburan. Ibu yang sering hamil kecuali terjadi beban bagi ibu sendiri, juga merupakan resiko tersendiri bagi ibu untuk mendapatkan penyakit seperti anemia, resiko kesakitan dan kematian akibat persalinan.

3. Aspek psikologis
Keuntungan menyusui bukan hanya bermanfaat untuk bayi, tetapi juga untuk ibu. Ibu akan merasa bangga dan diperlukan, rasa yang dibutuhkan oleh semua manusia.

c. Manfaat untuk keluarga
1. Aspek ekonomi
ASI tidak perlu dibeli, sehingga dana yang seharusnya digunakan untuk membeli susu formula dapat digunakan untuk keperluan lain. Kecuali itu, penghematan disebabkan karena bayi yang dapat ASI lebih jarang sakit sehingga mengurangi biaya berobat.
2. Aspek psikologis
Kebahagiaan keluarga bertambah, karena kelahiran lebih jarang, sehingga suasana kejiwaan ibu baik dan dapat mendekatkan hubungan bayi dengan keluarga.
3. Aspek kemudahan
Menyusui sangat praktis, karena dapat diberikan dimana saja dan kapan saja. Keluarga tidak perlu repot menyiapkan air masak, botol dan dot yang harus selalu dibersikan, tidak perlu minta pertolongan orang lain.

d. Manfaat untuk negara
1. Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak
Adanya faktor proteksi dan nutrien yang sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik serta kesakitan dan kematian anak menurun. Beberapa penelitian epidemiologis menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi, misalnya diare, otitis media, dan infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah.
2. Mengurangi subsidi untuk rumah sakit
Subsidi untuk rumah sakit berkurang, karena rawat gabung akan memperpendek lama rawat ibu dan bayi, mengurangi komplikasi persalinan dan infeksi nosokomial serta mengurangi biaya yang diperlukan untuk perawatan anak sakit. Anak yang mendapatkan ASI lebih jarang dirawat di rumah sakit dibandingkan anak yang mendapatkan susu formula.
3. Mengurangi devisa untuk membeli susu formula
ASI dapat dianggap sebagai kekayaan nasional. Jika semua ibu menyusui, diperkirakan dapat menghemat devisa sebesar Rp.8,6 milyar yang seharusnya dipakai untuk membeli susu formula.
4. Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa
Anak yang mendapatkan ASI dapat tumbuh kembang secara optimal, sehingga kualitas generasi penerus bangsa akan terjamin.
2.3 Sifat-Sifat Unggul ASI
Menurut Wiryo (2000:17) sifat-sifat unggul yang terkandung dalam ASI adalah sebagai berikut:
a. Makanan alam (natural), ideal dan psikologik.
b. Mengandung nutrien yang lengkap dengan komposisi yang sesuai untuk keperluan pertumbuhan bayi yang sangat cepat, yaitu pada bulan pertama berat badan dapat bertambah dengan kira-kira 30%.
c. Nutrien selalu diberikan dalam keadaan segar dengan suhu yang optimal dan bebas dari kuman patogen.
d. Mengandung zat anti (anti body) dan zat yang dapat mempercepat pembentukan kekebalan. ASI mengandung faktor zat anti yaitu : faktor sesuler (Limfosit, netrofil, makrofag) dan faktor humoral (imunoglobulin Slg.A, laktoferin, lisosim, dan faktor bifidus). Faktor seluler terutama banyak terdapat pada kolostrum. Makrofag mengadakan fagositosis kolostrum dan ASI juga mengandung berbagai jenis hormon yang mempunyai efek terhadap pertumbuhan dan perkembangan susu yaitu hormon Epidermal Growth Factor (EGF) dan prostaglandin.
Secara teoritis ASI tidaklah cukup mengandung kalori bagi pertumbuhan bayi yang normal setelah usia 3 – 6 bulan (Jeliffe, 1979).
e. ASI mengandung asam lemak tidak jenuh yaitu asam decosa hexaenoic yang sangat berguna untuk pertumbuhan sel saraf, axon dan dendrit sehingga pertumbuhan otak dan mata menjadi sempurna. Zat tersebut merupakan salah satu variabel sangat penting untuk meningkatkan IQ seseorang. Sebagaimana diketahui otak tumbuh dengan optimal sampai bayi berumur 2 tahun.
2.3.1 ASI cukup untuk bayi bila :
Menurut Wiryo (2002:17) ASI cukup untuk bayi jika terdapat hal-hal seperti dibawah ini:
Berat badan waktu lahir telah tercapai kembali sekurang-kurangnya pada akhir 2 minggu setelah lahir dan selama itu tidak terjadi penurunan berat badan yang lebih dari 10 %.
Kurva pertumbuhan berat badan memuaskan, yaitu menunjukan kenaikan berat badan sebagai berikut : selama triulan ke 1 : kenaikan berat badan 150-250 gr setiap minggu; selama triulan ke 2 : 500-600 gr setiap bulan; selama triulan ke 3 : 350-450 gr setiap bulan; selama triulan ke 4 : 250-350 gr setiap bulan; atau berat badan menjadi 2 kali lipat berat badan waktu lahir pada umur 4-5 bulan dan tiga kali lipat pada umur satu tahun.
Kecukupan ASI dapat pula dirasakan oleh ibu (subyektif), sebagai berikut : bayi tampak puas dan tidur nyeyak setelah menyusu dan ibu merasa perubahan tegangan pada payudara sebelum dan sesudah menyusu, dan merasakan pengaliran ASI yang cukup selama menyusui.

2.4 Fisiologi Laktasi
Proses pembentukan ASI dipengaruhi oleh kerja sistem hormon di dalam tubuh. Terdapat 3 proses pembentukan ASI, yaitu mamogenesis atau pertumbuhan kelenjar susu, laktogenesis atau permulaan sekresi air susu, dan galaktorpoesis atau permulaan sekresi air susu, dan galaktopoesis atau kelangsungan produksi ASI. Sekresi telah dimulai pada trimester pertama kehamilan dibawa pengaruh hormon prolaktin dan dukungan oleh hormon lain dari lipofisis, ovarium, tiroid, adrenal, dan pankreas. (www.mkionline.net, 2004).
Pada waktu kelahiran, dengan lahirnya plasenta, hormon plancental lactogen akan menghilang dalam beberapa jam. Demikian juga konsentrasi hormon esrogen dan progesterone mendadak menurun, sedangkan konsentrasi hormon prolaktin tetap tinggi. Penurunan kadar hormon estrogen dan progesterone dalam sirkulasi menyebabkan hilangnya hambatan terhadap hormon prolaktin dan peristiwa ini mengawali laktasi. Kerja sebagai sistem hormon di dalam tubuh dalam tubuh dapat berlangsung optimal apabila zat-zat gizi terdapat dalam jumlah yang adekuat, sehingga dapatlah disimpulkan status gizi ibu menyusui harus dalam keadaan optimum. (www.mkionline.net, 2004).

2.5 Anatomi Payudara Dan Proses Pembentukan ASI
Menurut Roesli (2000:18) payudara wanita dibagi menjadi 2 bagian yaitu: bagian luar (eksternal) dan bagian dalam (internal).
Bagian luar terdiri dari :
· Sepasang buah dada yang terletak di dada.
· Puting susu.
· Daerah kecokelatan disekitar puting susu (areola mammae).

Bagian dalam terdiri dari empat jaringan utama :
· Kelenjar susu (mammary alveoli) merupakan pabrik susu.
· Gudang susu (sinus lactiferous) yang berfungsi menampung ASI, terletak di bawah daerah bawah daerah kecokelatan di sekitar puting susu.
· Saluran susu (ductus lactiferous) yang mengalirkan susu dari pabrik susu ke gudang susu.
· Jaringan penunjang dan pelindung, seperti jaringan ikatdan sel lemak yang melindungi.
Air susu ibu diproduksi/dibuat oleh jaringan kelenjar susu atau pabrik ASI. Kemudian disalurkan melalui saluran susu ke dalam gudang susu yang terdapat di bawah daerah yang berwarna gelap/coklat tua disekirar puting susu. Gudang susu ini sangat penting artinya, karena merupakan tempat penampungan ASI. Puting susu mengandung banyak sekali saraf sensoris sehingga sangat peka.

A. Hormon dan Refleks yang Menghasilkan ASI
ASI diproduksi atas hasil kerja gabungan antara hormon dan refleks. Selama kehamilan, terjadilah perubahan pada hormon yang berfungsi mempersiapkan jaringan kelenjar susu untuk memproduksi ASI. Segera setelah melahirkan, bahkan kadang-kadang mulai pada usia kehamilan 6 bulan akan terjadi perubahan pada hormon yang menyebabkan payudara mulai memproduksi ASI. Pada waktu bayi mulai mengisap ASI, akan menjadi dua refleks yang akan menyebabkan ASI keluar pada saat yang tepat dengan jumlah yang tepat pula, yaitu refleks pembentukan/produksi ASI atau refleks prolaktin yang di rangsang oleh hormon prolaktin dan refleks pengaliran/pelepasan ASI (let down reflex).
Pengetahuan mengenai refleks ini akan dapat membantu ibu untuk berhasil menyusui karena akan menerangkan mengapa dan bagaimana seorang ibu dapat memproduksi ASI.

2.6 Komposisi ASI
Menurut Manuaba (1998) komposisi yang terkandung dalam ASI adalah sebagai berikut:
a. Kolostrum Pelindungan yang Kolosat
“Kolostrum adalah cairan pelindungan emas, cairan pelindungan yang kaya zat anti-infeksi dan Berprotein tinggi”
b. ASI Transisi/Peralihan
· ASI peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum sampai sebelum menjadi ASI yang matang.
· Kadar protein makin rendah, sedangkan kadar karbonhidrat dan lemak makin meninggi.
· Volume akan makin meningkat.
c. ASI matang (mature)
· Merupakan ASI yang dikeluarkan pada sekitar hari ke-14 dan seterusnya, komposisi relatif konstan.
· Pada ibu yang sehat dengan produksi ASI cukup, ASI merupakan makanan satunya yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan.
d. Perbedaan komposisi ASI dari menit ke menit
ASI yang keluar pada lima menit pertama dinamakan foremilk. Foremilk mempunyai komposisi yang berbeda dengan ASI yang keluar kemudian (hindmilk). Foremilk lebih encer. Hindmilk mengandung lemak 4-5 kali lebih banyak dibanding foremilk. Diduga Hindmilk inilah yang mengenyangkan bayi.
e. Lemak ASI makanan terbaik otak bayi
1. Lemak ASI, lemak yang tepat bagi bayi
2. Lemak ikatan panjang ASI, makanan untuk Otak
3. Kolestrol baik atau buruk untuk bayi
f. Karbohidrat ASI terasa manis dan segar
Coba bedakan rasa ASI dengan susu formula. Rasa ASI segar, karna laktosa ASI memang manis dan segar rasanya, sedangkan susu formula rasanya seperti tercampur aroma kaleng.
Karbohidrat utama ASI adalah laktosa (gula). ASI mengandung lebih banyak laktosa dibandingkan dengan susu mamalia lainya atau sekita 20-30 % lebih banyak dari susu sapi.
g. Protein ASI, Protein Perkasa
Protein adalah baku untuk tumbuh. Kualitas protein sangat penting selama tahun pertama kehidupan bayi, karena pada saat ini pertumbuhan bayi paling cepat. Air susu ibu mengandung protein khusus yang dirancang untuk pertumbuhan bayi manusia.
Susu sapi dan ASI mengadung dua macam protein utama, yaitu whey dan kasien (casein). Whey adalah protein yang halus, lembut, dan mudah dicerna. Kaisen adalah protein yang bentuknya kasar, bergumpal, dan sukar dicerna oleh usus bayi. .
h. Faktor Pelindung Dalam ASI
Pada waktu lahir sampai usia bayi beberapa bulan bayi belum dapat membentuk kekebalan sendiri secara sempurna. ASI mampu memberikan perlindungan secara aktif maupun pasif. ASI tidak saja menyediakan perlindungan yang unik terhadap infeksi dan alergi., tetapi juga merangsang perkembangan sistim kekebalan bayi itu sendiri. ASI memberikan zat kekebalan yang belum di dapat oleh bayi. Dengan adanya zat anti infeksi dari ASI maka bayi ASI Eksklusif akan terlindung dari berbagai macam infeksi, baik yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur atau parasit. ASI juga ternyata mengandung zat anti infeksi, antara lain :
1. Sel darah putih
2. Imonoglubulin atau antibiotika alamia
3. Imunisasi aktif dan pasif oleh ASI
4. Sistem perlindungan tubuh yang selalu diperbaharui
i. Vitamin, Meniral dan zat besi ASI
ASI merupakan zat nutrisi yang bersifat unik, karena sebagian besar zat yang ada dalam ASI dapat dipergunakan oleh tubuh. Berikut ini perbandingan ASI dengan susu formula :
· ASI mengandung vitamin dan mineral yang lengkap.
· Kadar mineral ASI relatif rendah, tetapi cukupuntuk bayi sampai umur 6 bulan.
· Hampir semua vitamin dan mineral dalam ASI akan diserap oleh tubuh bayi.
· Zat makanan yang tidak diserap oleh bayi akan memperberat kerja usus.
· Satu hal yang menyebabkan ASI efisien adalah jumlah zat-zat ini akan berubah secara otomatis sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan bayi saat itu.

2.7 Keuntungan dan Kerugian pemberian ASI
Menurut Manuaba (1998) keuntungan dan kerugian pemberian ASI adalah sebagai berikut:
1. Memberikan ASI sesuai dengan tugas seorang ibu, sehingga dapat meningkatkan martabat wanita dan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
2. ASI telah disiapkan sejak mulai kehamilan sehingga sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang bayi.
3. ASI mempunyai kelebihan dalam susunan kimia, komposisi biologis dan mempunyai substansia spesifik untuk bayi.
4. ASI siap setiap saat untuk diberikan pada bayi dengan sterilitas yang terjamin.
5. ASI dapat disimpan selama 8 jam tanpa perubahan apapun, sedangkan susu botol hanya cukup 4 jam.
6. Karena bersifat spesifik, maka pertumbuhan bayi baik dan terhindar dari beberapa penyakit tertentu.
7. Ibu yang siap memberikan ASI mempunyai keuntungan :
· Terjadi laktasi amenorea, dapat bertindak sebagai metode KB dalam waktu relatif 3 sampai 4 bulan.
· Mempercepat terjadinya involusi uterus.
· Pemberian ASI mengurangi kejadian karsinoma mammae.
· Melalui pemberian ASI kasih sayang ibu terhadap bayi lebih baik sehingga menumbuhkan hubungan batin lebih sempurna.
8. Bayi mengukur sendiri rasa laparnya sehingga metode pemberian ASI dengan jalan call feeding.


Sedangkan kerugian pemberian ASI adalah :
Waktu pemberian ASI tidak terjadwal, tergantung dari bayinya.
Kesiapan ibu untuk memberikan ASI setiap saat.
Terdapat kesulitan bagi ibu yang bekerja di luar rumah.

2.8 Larangan untuk Memberikan ASI
Menurut Manuaba (1998) larangan untuk memberikan ASI yaitu: Sekalipun upaya untuk memberikan ASI digalakkan tetapi pada beberapa kasus pemberian ASI tidak dibenarkan.
1. Faktor dari ibu
· Ibu dengan penyakit jantung yang berat, akan menambah beratnya penyakit ibu.
· Ibu dengan pre-eklampsia dan eklampsia, karena banyaknya obat-obatan yang telah diberikan, sehingga dapat mempengaruhi bayinya.
· Penyakit infeksi berat pada payudara, sehingga kemungkinan menular pada bayinya.
· Karsinoma payudara mungkin dapat menimbulkan metastasis.
· Ibu dengan psikosis, dengan pertimbangan kesadaran ibu sulit diperkirakan sehingga dapat membahayakan bayi.
· Ibu dengan infeksi virus.
· Ibu dengan TBC atau lepra.

2. Faktor dari bayi
· Bayi dalam kejang-kejang, yang dapat menimbulkan bahaya aspirasi ASI.
· Bayi yang menderita sakit berat, dengan pertimbangan dokter anak tidak dibenarkan untuk mendapatkan ASI.
· Bayi dengan berat badan lahir rendah, karena refleks menelannya sulit sehingga bahaya aspirasi mengancam.
· Bayi dengan cacat bawaan yang tidak mungkin menelan (labiokisis, palatognatokisis, labiognatopalatokisis)
· Bayi yang tidak dapat menerima ASI, penyakit metabolisme seperti alergi ASI.
Pada kasus tersebut diatas untuk memberikan untuk memberikan ASI sebaiknya dipertimbangkan dengan dokter anak.

Keadaan patologis pada payudara
Pada stagnasi ASI yang dapat menimbulkan infeksi dan abses dapat dihindari. Sekalipun demikian masih ada keadaan patologis payudara yang memerlukan konsultasi dokter sehingga tidak merugikan ibu dan bayinya. Keadaan patologis yang memerlukan konsultasi adalah :
· Infeksi payudara
· Terdapat abses yang memerlukan insisi
· Terdapat benjolan payudara yang membesar saat hamil dan menyusui
· ASI yang bercampur dengan darah



2.9 Kerugian Air Susu Buatan
Menurut Sigit Sidi (2004) adapun kerugian dalam air susu buatan atau formula yaitu:
Air susu buatan atau formula mempunyai beberapa kerugian yaitu :
1. Pengenceran yang salah
Mengencerkan susu formula tidaklah muda. Tidak semua ibu dapat mengencerkan susu formula seperti aturan yang seharusnya. Pengenceran yang salah dapat diartikan dua hal, yaitu melarutkan susu formula lebih encer dari seharusnya, atau lebih peka dari seharusnya. Keduanya akan menimbulkan masalah pada bayi dan anak. Penyebabnya adalah aturan yang tertera pada label kaleng susu formula tidak dapat dimengerti ibu-ibu. Pelarutan lebih peka dari seharusnya dapat mengakibatkan Hipotermi, Obesitas, Hepertensi, dan Enterokolitis nekrotikans.

2. Kontaminasi mikroorganisme
Pembuatan susu formula di rumah tidak menjamin bebas kontaminasi mikroorganisme patogen. Penelitian menunjukan bahwa banyak susu formula terkontaminasi oleh mikroorganisme patogen.

3. Menyebabkan alergi
Kejadian alergi susu sapi bukannya tidak jarang, prevalensinya dilaporkan antara 0,5-1 %, tetapi tidak banyak petugas kesehatan yang menyadarinya. Walaupun alergi susu sapi dapat menghilangkan secara spontan dalam waktu 1-2 tahun, tetapi gejalanya kadang-kadang berat bahkan dapat mengakibatkan renjatan, sehingga perlu mendapatkan perhatian.

4. Susu sapi dapat menyebabkan diare kronis
Ada dugaan bahwa diare akut dapat berlanjut menjadi kronis pada anak yang minum susu sapi. Diduga kerusakan mukosa usus yang terjadi pada diare akut menyebabkan terjadinya diare kronis melalui mekanisme peningkatan absorbsi antigen melalui mukosa yang rusak yang selanjutnya terjadi sensitisasi terhadap protein susu sapi dan terjadi enteropati yang akibatnya akan memperberat kerusakan mukosa. Kerusakan mukosa juga mengakibatkan intoleransi lactose karena defisiensi enzim laktose.

5. Penggunaan susu formula dengan indikasi yang salah
Saat ini banyak susu formula yang beredar di pasaran. Ada yang diantaranya digunakan untuk penyakit tertentu atau keadaan tertentu. Sering terjadi kekeliruan penggunaan jenis susu formula tertentu, kerena ketidaktahuan indikasi penggunaannya.

6. Tidak mempunyai manfaat yang sama seperti ASI
Dari uraian manfaat ASI di atas dapatlah dikatakan bahwa kekurangan lain dari susu formula adalah, bahwa susu formula tidak mempunyai manfaat seperti halnya ASI. Jadi air susu buatan/formula :
· Nutriennya tidak sesempurna ASI
· Tidak mengandung zat protektif
· Mudah menimbulkan alergi
· Lebih mudah menimbulkan karies dentis
· Lebih mudah menimbulkan maloklusi
· Kurang menimbulkan efek psikologis yang menguntungkan
· Tidak merangsang involusi rahim
· Tidak berefek menjarangkan kehamilan
· Tidak mengurangi insiden karsinoma mammae
· Tidak praktis
· Tidak ekonomis
· Bagi negara menambah beban anggaran yang harus dikeluarkan untuk membeli susu formula, biaya perawatan ibu dan anak.

Tabel 2.1
Perbedaan antara ASI, Susu Sapi dan Susu Formula

Properti
ASI
Susu Sapi
Susu Formula
Kontaminan Bakteri
Tidak ada
Mungkin ada
Mungkin ada bila dicampurkan
Faktor anti infeksi
Ada
Tidak ada
Tidak ada
Faktor pertumbuhan
Ada
Tidak ada
Tidak ada
Protein
Jumlah sesuai dan mudah dicerna
Terlalu banyak dan sukar dicerna
Sebagian diperbaiki

Kasein: whey 40:60
Kasien : whey 80:20
Disesuaikan dengan ASI

Whey : Alfa
Whey : betalaktoglobulin

Lemak
Cukup mengadung Asam lemak esensial (ALE), DHA dan AA Mengandung Lipase
Kurang ALE


Tidak ada lipase
Kurang ALE tidak ada DHA dan AA

Tidak ada lipase
Zat besi
Jumlah kecil tapi mudah dicerna
Jumlah lebih banyak tapi tidak teresap dengan baik
Ditambahkan ekstra tidak diserap dengan baik
Vitamin
Cukup
Tidak cukup vitamin A dan vitamin C
Vitamin ditambahkan
Air
Cukup
Perlu pertambahan
Mungkin perlu ditambah

(Sigit Sidi, 2004)

TIPS KEBERHASILAN PEMBERIAN ASI EKSLUSIF
Menurut Roesli (2000) Langkah-langkah yang terpenting dalam persiapan keberhasilan menyusui secara ekslusif meliputi sebagai berikut :
Tujuh Langkah Keberhasilan ASI Ekslusif
Mempersiapkan payudara, bila diperlukan.
Mempelajari ASI dan tatalaksana menyusui.
Menciptakan dukungan keluarga, teman, dan sebagainya.
Memilih tempat melahirkan “seperti rumah sakit sayang bayi” atau “rumah bersalin sayang bayi”.
Memilih tenaga kesehatan yang mendukung pemberian ASI secara ekslusif.
Mencari ahli persoalan menyusui seperti klinik laktasi dan atau konsultasi laktasi (Lactation consultan), untuk mempersiapkan apabila kita menemui kesukaran.
Menciptakan suatu sikap yang positif tentang ASI dan menyusui.
2.10 Kerugian-Kerugian yang Potensial dari Pengenalan Makanan Tambahan Terlalu Dini
Beberapa akibat yang kurang baik dari pengenalan makanan tambahan yang dini menurut Suharjo (2003:82) adalah sebagai berikut :
1. Gangguan Penyusuan.
2. Beban Ginjal yang berlebihan dan hiperosmolitas.
3. Alergi terhadap makanan.
4. Gangguan Selera Makan.
5. Bahan Makanan Tambahan yang merugikan.
· Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI tidak eksklusif
1. Pendidikan
Menurut Paiman Soeparmanto, dkk tahun 2001 menyatakan bahwa ibu-ibu berpendidikan SD belum tamat dan tamat mempunyai kemungkinan menyusui secara ekslusif 6 kali dibandingkan dengan ibu yang tidak tamat dan ibu-ibu juga mempunyai kemungkinan menyusui ASI ekslusif 4 kali dibandingkan dengan ibu-ibu yang tidak tamat SMP dan SMA. (www.google.com).
Berdasarkan penelitian Herasdiana tahun 2002 menunjukan bahwa ibu yang ibu yang berpendidikan memberikan ASI secara ekslusif. Sedangkan ibu yang berpendidikan rendah cenderung memberikan ASI tidak ekslusif. (Dep.Kes, 2002).

2. Pekerjaan
Menurut Paiman Soeparmanto, dkk tahun 2001 menunjukkan bahwa proporsi pemberian ASI ekslusif oleh ibu dengan status pekerjaan buruh, karyawati, pekerja tak dibayar sebesar 69,8%. Sedangkan yang berusaha sendiri dan berusaha dibantu buruh proporsinya hampir sama yaitu 57,0% dan 63,5%. (www.google.com).
Hasil penelitian Herasdiana tahun 2002 menunjukan bahwa ibu yang bekerja memberikan ASI tidak ekslusif sebesar 41,18% dan ibu yang tidak bekerja memberikan ASI secara ekslusif sebesar 56,10% hal ini disebabkan karena ibu tidak bekerja ASI yang ada tidak mencukupi. (Dep.Kes, 2002).

3. Akses Media Massa
Menurut Paiman Soeparmanto, dkk tahun 2001 menyatakan bahwa ibu-ibu yang dapat membaca dan mendengar proporsi pemberian ASI ekslusif sebesar 68,7% lebih besar dari pada ibu-ibu yang tidak membaca dan mendengar (67,13%). (www.google.com).
Promosi di media masa mengenai ASI dari 10 tahun terakhir menyatakan bahwa pesan-pesan umum yang mempromosikan manfaat ASI tidak bermanfaat sehingga menyebabkan pemberian ASI kurang optimal karena itu ibu memerlukan informasi dan lingkungan untuk menyusui dengan benar. (Manajemen Pelayanan Mandiri 2006).



· Faktor-faktor lain yang berhubungan pemberian ASI tidak eksklusif
1. Umur Ibu
Menurut Paiman Soeparmanto, dkk, disimpulkan bahwa semakin bertambah umur ibu semakin kecil proporsi menyusui ASI ekslusif. Proporsi terbesar terdapat pada umur 21-30 tahun, yaitu 69,5%. Tetapi proporsi menyusui ASI ekslusif pada umur 41 tahun atau lebih proporsinya 64,4%.Jadi tampak keberanian untuk menyusui bayi tidak ragu-ragu lagi bagi ibu-ibu yang relatif tua umurnya.(www.google.com).

2. Estetika
Hasil penelitian menunjukan bahwa ibu-ibu alasan tidak memberikan ASI eksklusif karena takut di tinggal suami akibat mitos yang salah yaitu menyusui akan mengubah bentuk payudara menjadi jelek. (Roesli, 2000).

3. Paritas
Menurut Paiman Soeparmanto, dkk, proporsi menyusui ASI ekslusif pada ibu yang mempunyai 3 anak atau lebih sebesar 70,2%. Jumlah ini lebih besar dari pada yang mempunyai 1-2 anak yaitu67,7%. (www.google.com).





BAB III
KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL
DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konsep
Berdasarkan pendekatan penelitian Paiman Soeparmanto, dkk tahun 2001 maka kerangka konsep penelitian dapat dikemukakan sebagai berikut :

Variabel Independen Variabel Dependen

3.2 Definisi Operasional
3.2.1 Variabel Dependen
I. Pemberian ASI tidak Ekslusif
Pengertian : Memberikan makanan tambahan selain ASI pada usia sebelum 6 bulan
Cara Ukur : Wawancara
Alat Ukur : Quesioner, yang terdiri dari 7 pertanyaan
Hasil Ukur : 1. ASI tidak ekslusif : jika ibu memberikan makanan selain ASI pada usia sebelum 6 bulan
ASI ekslusif : jika ibu memberikan ASI saja sampai usia 6 bulan.
Skala Ukur : Ordinal

3.2.2 Variabel InDependen
Pendidikan
a. Pengertian : Jenjang pendidikan formal ibu yang pernah diselesaikan ibu
b. Cara Ukur : Wawancara
c. Alat Ukur : Quesioner, yang terdiri dari 1 pertanyaan
d. Hasil Ukur : 1. Rendah < SMU
2. Tinggi > SMU
e. Skala Ukur : Ordinal

Pekerjaan Ibu
a. Pengertian : Suatu aktivitas/kegiatan yang dilakukan ibu untuk memperoleh penghasilan guna menafkahi hidup.
b. Cara Ukur : Wawancara
c. Alat Ukur : Quesioner, yang terdiri dari 2 pertanyaan
d. Hasil Ukur : 1. Bekerja
2. Tidak bekerja
e. Skala Ukur : Ordinal
Akses Media Massa
Pengertian : Informasi tentang ASI ekslusif yang di dapat ibu dari media cetak atau media elektronik.
Cara Ukur : Wawancara
Alat Ukur : Quesioner, yang terdiri dari 2 pertanyaan
Hasil Ukur : 1. Tidak terakses, jika ibu tidak mendapatkan informasi melalui media massa.
2. Terakses, jika ibu mendapatkan informasi melalui media massa.
Skala Ukur : Ordinal

3.3 Hipotesis
- Adanya hubungan antara faktor pendidikan dengan pemberian ASI tidak ekslusif di Poli KIA RSUD Cibinong Bogor Tahun 2008.
- Adanya hubungan antara faktor pekerjaan dengan pemberian ASI tidak ekslusif di Poli KIA RSUD Cibinong Bogor Tahun 2008.
- Adanya hubungan antara faktor akses media massa dengan pemberian ASI tidak ekslusif di Poli KIA RSUD Cibinong Bogor Tahun 2008.





BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian
Penelitian adalah suatu upaya untuk memahami dan memecahkan masalah secara ilmiah, sistimatis dan logis. (Notoatmodjo, 2002: 24).
Penelitian ini bersifat survei analitik dengan pendekatan Cross Sectional dimana pemberian ASI tidak eksklusif dan pendidikan, pekerjaan, dan akses media masa yang dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan.

4.2 Populasi dan Sampel Penelitian
4.2.1 Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmdjo, 2002: 79).
Ibu-ibu yang mempunyai bayi usia 6-12 bulan di Poli KIA RSUD Cibinong Bogor Tahun 2008.

4.2.2 Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. (Notoatmodjo, 2002: 79).
Dari populasi yang berjumlah didapatkan sampel sebanyak 51 orang, sampel diambil secara Random dengan teknik accidental sampling yaitu pengambilan sampel yang dilakukan dengan cara mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada dan tersedia di RSUD cibinong Bogor, pada saat imunisasi. Dengan cara setiap ibu yang mengajak bayinya ke dicatat sebagai sample selanjutnya ibu yang baru dating dicatat di nomor selanjutnya sampai berjumlah 51 orang Dari jumlah populasi diambil beberapa orang ibu untuk dijadikan sampel dengan rumus :
n =
Keterangan :
N = Besar populasi
n = Besar sampel
d = Tingkat kepercayaan (0,05)

4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian
4.3.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian diambil di Poli KIA RSUD Cibinong Bogor Tahun 2008.

4.3.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan tanggal januari –februari 2009.

4.4 Teknik Pengumpulan Data
4.4.1 Data Primer diperoleh dari :
Pengamatan langsung dan wawancara, berstruktur dalam bentuk pengisian quesioner pertanyaan yang telah disiapkan.
4.4.2 Data Sekunder diperoleh dari :
Data laporan dari Poli KIA RSUD Cibinong Bogor dan BPS (Badan Pusat statistik).

4.5 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data menggunakan quesioner

4.6 Pengolahan Data
4.6.1 Coding (Pengkodean)
Memberikan kode pada lembar jawaban
4.6.2 Editing (Pengeditan Data)
Meneliti kembali apakah isian pada lembar quesioner sudah cukup baik yang dapat segera diproses lebih lanjut.
4.6.3 Entry Data atau Tabulasi (Pemasukan Data)
Memasukkan data secara manual dalam bentuk table menurut karakter, sifat tertentu.
4.6.4 Cleaning Data (Pembersihan Data)
Memasukkan data secara manual dalam bentuk tabel

4.7 Analisa Data
Data yang disajikan dengan mendistribusikan melalui analisis Univariat dan Bivariat.
4.7.1 Analisis Univariat
Data dianalisa dengan distribusi frekuensi yang dilakukan terhadap pendidikan, pekerjaan, dan akses media massa serta pemberian ASI tidak eksklusif.
4.7.2 Analisis Bivariat
Data hubungan antara pendidikan, pekerjaan serta akses media massa dan pemberian ASI tidak eksklusif dianalisa dengan menggunakan uji statisik chi-square atau chi-square test (test x kuadrat) menyatakan asosiasi hubungan dua variabel.
Rumus chi-square hitung :